Dapur Sebagai Ruang Interaksi

April 02, 2017

Dapur atau ruang tempat memasak; tempat membakar batu bata, batu kapur, dan sebagainya (menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia) pada umumnya dibangun di bagian belakang rumah. Dalam filosofi Jawa, dapur atau “Pawon” memiliki konotasi sebagai tempat untuk hal-hal yang kotor, berkaitan dengan asap dan limbah, sebab itu letaknya tersembunyi di bagian belakang.

Bagi sebagian orang, dapur bukan hanya sebagai tempat sekedar mengolah berbagai macam bahan makanan. Tapi, dapur juga digunakan sebagai bentuk mengekspresikan diri kepada orang-orang yang dikasihi.

Kini, dapur juga tak lagi identik dengan penggunanya yang selalu perempuan, tak sedikit kaum pria yang menggantungkan hidupnya di dapur. Menjadi seorang juru masak.

Konon ada sebuah pepatah Bugis yang berbunyi, “Kumu’ulleni Malliburiki Dapurengnge Bekke Pitu, Abbahineno,” yang artinya jika Anda mampu mengelilingi sebuah dapur sebanyak tujuh kali, maka Anda sudah siap untuk menikah.

Pepatah itu sarat akan makna bagaimana membina rumah tangga yang baik. Angka “tujuh” sendiri merujuk pada sikap manusia seperti: kesiapan mental, kematangan pemikiran, mengerti akan tanggung jawab, mampu menjadi seorang pemimpin, mampu bersikap bijaksana, mampu menjadi teladan yang baik, dan mampu menjadi seseorang yang memiliki sifat ‘Istiqomah’. Bila ketujuh sikap itu terpenuhi, berarti Anda telah siap membangun rumah tangga.

Orang-orang Bugis menilai dalam sebuah dapur banyak benda yang bisa menggambarkan bagaimana arti sebuah pernikahan. Sebuah kompor tidak akan bisa digunakan jika tak ada bahan bakarnya, sebuah pernikahan tidak akan terwujud tanpa kerjasama antar sepasang kekasih. Dalam proses membangun sebuah rumah tangga pun akan selalu diwarnai bermacam bumbu, seperti yang ada di dapur.

Pada perkembangannya, di era modern lagi menggemaskan seperti saat ini, dapur tak selalu identik dengan hal-hal kotor. Berbagai desain arsitektur dapur bergaya ‘minimalist’ sedang digandrungi banyak peminatnya. Para produsen peralatan dapur berlomba-lomba untuk menarik perhatian masyarakat kelas menengah perkotaan. Konsep dapur seperti itu menggantikan gambaran dapur yang semula kotor-berantakan-penuh asap, menjadi dapur yang bersih-nyaman-teratur rapih.

Dalam ilmu Feng Shui, konon posisi ruang dapur memiliki peran yang sangat penting. Jika berada di tempat yang tepat, penghuninya akan mendapatkan keberuntungan. Jika tidak, penyakit dan pemborosan uang mengintai sang empunya.

Tak dibenarkan juga jika dapur berada di bagian depan rumah. Selain itu, dapur yang memiliki akses masuk bagi siapapun yang hendak memutar lewat belakang, menurut Feng Shui, hal seperti itu bisa menyebabkan keuangan rumah bisa bocor.

Di sisi interior, dapur juga terdiri dari dua elemen alam, elemen api (yang diwakili kompor) dan air (yang diwakili tempat mencuci). Keduanya sangat berlawanan. Oleh karena itu, unsur api  dan air tidak boleh saling berhadapan langsung atau bersebelahan.

Namun, segala konsep dapur ‘minimalist’ serta perhitungan ala-ala Feng Shui itu tentu tak sepenuhnya berlaku bagi mereka yang tinggal di rumah susun atau gang-gang sempit atau kampung-kampung di sudut-sudut negeri. Memiliki tempat sebagai pelindung dari hujan dan panas saja sudah lebih dari cukup.

Saya sendiri termasuk pada kumpulan manusia yang memanfaatkan dapur sebagai tempat untuk mencari bahan penyambung hidup, alias makanan. Saat pulang larut malam, biasanya dapur adalah tempat yang pertama saya tuju setelah melewati pintu rumah. Jika menemukan sesuatu yang bisa dimakan, selanjutnya saya akan mengeksekusinya di dalam kamar atau di teras rumah dengan berteman angin, tidak di ruang dapur. Tapi, lain cerita jika saya sedang berada di dapur milik orang lain.

Di dalam dapur saya juga bisa belajar banyak. Selain tentu belajar memasak, dapur adalah ruang bagi saya untuk bisa mengenal sifat dari setiap pemiliknya.

Banyak yang bilang, dapur bukan hanya sebagai tempat menyimpan bahan baku makanan, tapi, dapur juga menyimpan banyak rahasia dari pemiliknya. Sang pemilik dapur tentu tidak akan sembarang mengizinkan orang asing untuk bisa masuk ke ruang dapur. Maka dari itu, bagi saya sendiri, sebuah kehormatan jika berkesempatan untuk bisa dibolehkan masuk dan melihat dapur seseorang.

***

Awal Maret 2017, saya dengan beberapa orang kawan berkesempatan untuk berkunjung ke Desa Buho-Buho, Morotai Timur, Maluku Utara. Dalam perjalanan itu, kami berniat untuk mencari informasi terkait desa yang menjadi lokasi tempat pembuatan papan selancar.

Hujan deras mengiringi sepanjang perjalanan, kami pun menyempatkan diri untuk singgah di sebuah warung kelontong, berteduh sekaligus mencari informasi terkait. Ada beberapa orang warga yang tengah berkumpul di warung itu, melihat ada kerumunan di warung, beberapa orang warga yang tengah melintas pun beberapa kali menyempatkan untuk bergabung dengan kami. Saling tukar informasi.

Pencarian informasi terkait para pembuat papan selancar belum menemui titik terang. Di tengah kebuntuan itu, seorang warga menawarkan kami untuk mampir di rumahnya, sekedar melepas lelah sambil menunggu hujan yang tak kunjung reda.

Adalah Mama Sulifan, seorang warga yang sebelumnya sekedar lewat setelah menjemput anaknya yang sedang bermain. Melihat kami yang mulai kepayahan sebab diguyur hujan, ia berbaik hati untuk menawarkan mampir di rumahnya yang kebetulan tak jauh dari warung kelontong tempat kami singgah.

Setelah tiba di rumahnya yang sederhana, Mama Sulifan tak memberhentikan langkah kami hanya pada ruang tamunya, tapi ia justru memaksa kami untuk segera masuk hingga belakang rumah, ke ruang dapur.

Dapur Mama Sulifan di Desa Buho-Buho, Morotai Timur, Maluku Utara

Saat itu, kami juga membawa dua ekor ikan Cakalang mentah, yang rencananya hendak kami olah ketika kami bermalam dengan mendirikan tenda di pinggir pantai. Apalah daya, hujan mengubah rencana itu. Dan akhirnya, perbekalan yang kami bawa diputuskan untuk diolah di dalam dapur milik Mama Sulifan.

Di dalam dapur, beralaskan tanah-berdindingkan kayu, kami mengolah Cakalang menjadi ‘Gohu Ikan’ ala Maluku. Sedangkan Mama Sulifan menyiapkan air panas sekaligus merebus Ubi dan Pisang dengan menggunakan tungku di sisi lain dapurnya. Tak ada kecurigaan berlebih yang menimpa kami, ibu dengan dua anak itu bahkan mempersilahkan kami untuk melayani diri sendiri. “Silahkan, kalian atur saja sendiri,” katanya, yang kemudian disambut oleh kegembiraan pada diri kami.

Dapur Mama Sulifan bukan hanya menjadi tempat untuk menyiapkan makanan, tapi ia justru menjadi ruang tamu bagi orang-orang asing seperti saya dan yang lainnya. Di dalam dapur, kami menghabiskan waktu menunggu hujan reda dengan bercerita, bersenda gurau, dan tentu saja melahap semua perbekalan. Kopi panas dan Gohu Ikan menjadi satu-satunya jeda ketika kami saling berinteraksi satu sama lain.

Mama Sulifan (kanan) 

Sungguh hal yang menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama di dapur milik Mama Sulifan, meskipun kami baru saling mengenal satu jam sebelumnya. Waktu pun tak terasa terus bergulir, hingga akhirnya kami memutuskan berpisah untuk meneruskan perjalanan, sambil berharap, di waktu mendatang kami bisa berjumpa kembali. Mungkin di dalam dapur lagi..

---

Pekan terakhir di bulan Maret 2017, saya dan dua orang kawan tiba di Pulau Malenge, salah satu pulau yang berada di tengah Teluk Tomini, dan masih bagian dari gugusan Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah.

Dalam perjalanan itu, kami hendak melakukan survei pada masyarakat yang ada di dua desa di Pulau Malenge, yakni Desa Kadoda dan Desa Malenge. Untuk diketahui, Pulau Malenge adalah salah satu pulau istimewa dari gugusan Kepulauan Togean, selain potensi keindahan alam lautnya, di pulau ini juga hidup berbagai macam satwa endemik yang tidak ada di daerah lain, seperti: Babi Rusa, Tarsius, Kus-kus, Burung Julang, Macaca (Yaki) dan masih banyak yang lainnya. Oleh karena itu, kami hendak melakukan survei bagaimana hubungan antara manusia dengan alam di Pulau Melenge.

Awal perjalanan, kami tiba di Dusun Pulau Papan, salah satu dari tiga dusun yang merupakan bagian dari Desa Kadoda. Dinamakan ‘Pulau Papan’ sebab dusun ini memang terpisah secara geografis dengan pulau induknya. Ada jembatan kayu, yang berdiri di atas laut sepanjang satu kilometer yang menghubungkan Pulau Malenge dengan Pulau Papan.

Singkat cerita, kami berkenalan dan diijinkan untuk tinggal di salah satu rumah warga. Ialah Ibu Isra, tuan rumah kami saat itu. Sejak pertama kali datang, kami selalu menghabiskan waktu di dapur, atau di belakang rumahnya yang berdiri tepat di atas laut.

Ruang Makan sekaligus ruang keluarga.

Di dalam dapur, Ibu Isra bercerita banyak kepada saya dan yang lainnya, bercerita tentang profesinya yang menjual kue atau nasi kuning, tentang suami dan anaknya yang bekerja sebagai penampung ikan, serta bercerita tentang rumahnya yang selalu menjadi tempat persinggahan bagi setiap tamu yang datang berkunjung ke Pulau Papan.

Ruang dapur Ibu Isra hampir tak pernah sepi, letaknya yang berada di belakang rumah selalu dikunjungi oleh warga sekitar yang hendak membeli kue ataupun mengantar ikan hasil tangkapan para nelayan. Dapur bukan hanya menjadi tempat mengolah bahan kue atau ikan, tapi, dapur Ibu Isra juga menjadi tempat berlangsungnya perputaran ekonomi warga Pulau Papan.

Selama dua hari kami tinggal di Pulau Papan, atau lebih spesifiknya, tinggal di beranda belakang rumah Ibu Isra. Setelah selesai dengan Desa kadoda, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Desa Malenge yang berjarak 30 menit jalur laut via kapal nelayan.

Tiba di Desa Malenge, jika sebelumnya kami selalu datang dari depan rumah (lalu memutar ke belakang), kali ini kami langsung bertamu melalui pintu dapur rumah warga. Desa Malenge cukup unik, karena tata letak desa ini memanjang hanya di pesisir Pulau Malenge. Jadi, ketika membuka pintu depan rumah, kita akan dihadapkan langsung dengan bukit serta hutan yang masuk dalam bagian Taman Nasional Kepulauan Togean.

Rumah yang pertama kali kami singgahi ini adalah rumah Papa Kede dan Mama Wan. Kedua orang tua yang dikemudian hari rumahnya menjadi tempat kami bernaung selama tinggal di Desa Malenge.

Rumah Papa Kede dan Mama Wan sangat sederhana, khas masyarakat pesisir. Bangunan rumahnya sepenuhnya terbuat dari kayu, dan berdiri di atas laut. Atapnya terbuat dari anyaman daun rumbia, namun cukup untuk memberikan kenyamanan ketika berlindung dari panas matahari dan hujan.

Ada tiga bagian dari rumah ini. Ruang tamu dengan beberapa kursi di bagian depan, sebuah kamar tidur di bagian tengah, dan bagian belakang: dapur, ruang berkumpul, serta tempat tidur. Pusat kegiatan di rumah ini ada di bagian belakang.

Dapur rumah ini juga sangat sederhana, meski berdiri di atas laut, Mama Wan masih bisa membuat tungku perapian. Semua masakan untuk suami, anak, dan tamu asing seperti kami diolah menggunakan bahan bakar tradisional, menggunakan kayu dan batu.

Dapur sebagai pusat ruang interaksi di rumah Papa Kede (kanan) 

Setiap hari, usai berkeliling desa untuk bertemu warga dan melakukan survei, biasanya saya dan yang lainnya menghabiskan waktu di dapur milik kedua orang tua ini. Bercerita tentang kehidupan para nelayan, kesulitan-kesulitan warga yang hidup di pulau, hingga bercerita tentang banyaknya ular phyton yang mendiami hutan di depan desa mereka. Sesekali Papa Kede akan menghibur kami dengan memainkan gambus kecilnya. Sedangkan kawan saya yang lain pergi memancing hanya dari dapur milik Mama Wan.

Di sini, dapur menjadi pusat dari  budaya dan nilai-nilai keluarga yang dianut. Banyak hal tentang kehidupan berkeluarga yang diekspresikan secara sederhana dan berasal dari dapur.  Di usianya yang memasuki masa senja, Papa Kede dan Mama Wan, selalu berusaha menciptakan resep baru, agar bagaimana harmoni dalam berkeluarga tetap bisa bertahan lama. Segala masalah atau cobaan dalam berkeluarga, diselesaikan secara bijaksana di dalam dapur mereka.

Sungguh merupakan contoh yang baik.

***

Dapur bukan hanya sebagai tempat untuk menyalakan perapian, mengolah berbagai macam bahan makanan, untuk kemudian dihidangkan di meja makan. Lebih daripada itu, dapur adalah ruang belajar untuk mengendalikan hati dan pikiran, ruang interaksi antar sesama makhluk sosial, serta tempat mengolah cinta dalam rasa.

Bagaimana, dear, kamu sudah siap membangun dapur kita bersama?

You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe