'Bhinneka Tunggal Ika' atau 'Bhinneka Tinggal Luka?'

Februari 17, 2017


“Manusia mengonsepsi tuhan, bernaung di dalam pikiran. Mencari setiap jejakNya, mengulas semua kehendakNya . Apa wujudnya. Apa misinya.” Begitu bunyi dari sepenggal lirik yang dibawakan oleh band indie Efek Rumah Kaca yang sedang saya dengar saat hendak membuat tulisan ini.
Setelah berproses selama 7 tahun lamanya sejak album terakhir, Efek Rumah Kaca kembali melahirkan karya ajaibnya. Kali ini dengan album berjudul “Sinestesia,” yang berisikan 6 lagu dengan masing-masing menggunakan nama-nama warna dalam setiap judulnya.
Penggalan lirik di atas merupakan bagian dari lagu berjudul “Kuning”, yang liriknya dibuat oleh Adrian Faisal (Bass) lalu dikawinkan dengan musik ala Cholil Mahmud (Vokal-Gitar) dan Akbar Bagus (Drum).
Bukan kali ini saja, karya-karya ajaib Efek Rumah Kaca selalu bisa memberikan efek pada para pendengarnya. Dari setiap lagu yang dihasilkan, mereka selalu berhasil memberikan perspektif lain dalam ruang-ruang imaji bagi para penikmat musik.
Efek Rumah Kaca bukan hanya sekedar menghibur dalam berkarya, kekuatan lirik yang puitis dalam bahasa Indonesia sederhana, menjadikannya sekaligus merefleksi realitas yang ada. Seperti lagu “Kuning” itu misalnya, Efek Rumah Kaca menggambarkan bahwa manusia senantiasa hidup dalam keberagaman.
Manusia bisa secara bebas menentukan kepada Tuhan atau agama mana yang dipercayainya. Bebas untuk mencari, mengulas, atau menentukan wujudnya. Toh, pada akhirnya, manusia akan dinilai, dihisab sebab-akibat atas dirinya masing-masing.
Dalam lagu itu pula, Efek Rumah Kaca juga menggambarkan sisi manusia yang lain. “Manusia menafikan Tuhan, melarang atas perbedaan. Persepsi dibelenggu tradisi, jiwa yang keruh pun bersemi. Nihil maknanya, Hampa surganya. Hampa”.
Lagu berjudul “Kuning” milik Efek Rumah Kaca merupakan komposisi yang disusun secara tepat untuk memotret kondisi tempat di mana mereka tinggal, Indonesia.

***
Indonesia merupakan rumah bersama bagi bangsa yang majemuk. Rumah bagi 1.300 lebih suku bangsa dengan berbagai macam aliran kepercayaannya. Rumah yang dibangun bukan untuk segelintir golongan, bukan pula arena pertempuran antara si “Mayoritas” melawan “Minoritas”.
Dikutip dari laman independen.id,  Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin, dalam orasi budaya yang disampaikannya saat peringatan ulang tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang ke-22, Agustus 2016 lalu, pernah menjelaskan bahwa keberagaman adalah jatidiri bangsa Indonesia yang pertama. Sedangkan yang kedua adalah komitmen akan nilai-nilai kemanusiaan.
“Karakter bangsa ini adalah menjadi bagian dari kemanusiaan universal yang menghormati hak-hak kemanusiaan secara adil dan beradab dalam upaya memanusiakan manusia”.
Jatidiri yang ketiga, meski beragam dalam banyak hal, bangsa Indonesia dinilai memiliki ikatan dan jalinan yang saling mempertemukan satu sama lain untuk membentuk persatuan. Keberagaman itulah yang kemudian ditata dengan landasan filosofis berupa “Bhinneka Tunggal Ika”.
Yang keempat, Indonesia memiliki tradisi musyawarah penuh hikmah kebijaksanaan sebagai wujud demokrasi yang dialami dan membumi. Dan yang terakhir, yaitu tekad mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi kita semua.
Keadilan dalam berbangsa dan bernegara memang sudah tentu harus dilakukan. Adil dalam bersikap dengan tanpa melanggar hak orang lain. Adil dengan memberikan ruang bagi siapapun untuk bebas menetapkan agama dan kepercayaan atas pilihannya sendiri. Adil untuk bersama-sama mencari jalan keluar dari perbedaan yang ada di dalam negeri sendiri.
Manusia dalam tingkat kolektif, cenderung akan membuat identitas sendiri, atau bahkan memisahkan dirinya dengan yang lain. Secara sederhana, seperti dalam pergaulan sehari-hari misalnya, manusia akan cenderung bergaul dengan yang sepemikiran, memiliki hobi yang sama, atau pekerjaan yang sama. Manusia akan mencari ruang yang dinilai bisa memberikan rasa nyaman dan aman untuk bertahan hidup.
Namun, di sisi lain, melihat beberapa peristiwa yang terjadi belakangan, seperti pembubaran kegiatan-kegiatan keagamaan hingga diskriminasi terhadap agama atau kepercayaan tertentu, justru seperti melukai nilai-nilai keberagaman Indonesia yang dituangkan dalam istilah “Bhinneka”.
Sekelompok manusia hadir memprovokasi perbedaan, sebagian lain mengucilkan mereka yang dianggap tidak sejalan. Media sosial sebagai sarana untuk mendapatkan informasi pun lebih sering digunakan untuk menyebarkan kebencian. Hingga akhirnya tindak kekerasan pun terjadi.
Setara Institute, organisasi yang sering melakukan riset-riset Pluralisme dan keberagaman menilai, radikalisme di Indonesia justru kian menguat sepanjang 2016 lalu (kompas.com, 9/12/16). Negara dalam hal ini yang bertanggung jawab menjalankan fungsi untuk memenuhi, melindungi, dan menghormati kemajemukan agama dan kepercayaan di Indonesia dianggap belum berhasil menekan radikalisme yang terjadi.
Desember 2016 lalu, sejumlah Antropolog Indonesia bahkan menilai Negara Indonesia sedang berada dalam posisi darurat kebhinnekaan (tempo.co, 17/12/16). Hal yang mengkhawatirkan lainnya menurut mereka, dalam beberapa kejadian, pemerintah pusat dan daerah serta penegak hukum sering kali tidak mengantisipasi peristiwa atau melindungi dampak dari intimidasi.
Dalam penjelasan Pasal 1 UU Penodaan Agama, dinyatakan bahwa agama-agama yang dipeluk oleh penduduk Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khong Hu Cu. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa agama-agama lain dilarang di Indonesia.
Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 berbunyi: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu. Para pemeluk agama di luar 6 agama itu pun dibiarkan keberadaannya selama tidak melanggar peraturan perundang-undangan di Indonesia.
Dasar hukum lainnya yang menjamin kebebasan beragama di Indonesia juga diatur dalam Pasal 28E ayat (1) UUD 1945: Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah Negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.
Perbedaan pendapat tentu hal yang lumrah dan tidak dapat dielakkan. Tapi, jika setiap perbedaan bisa disikapi dengan toleransi, tentu harmoni keberagaman tetap akan bisa tercipta.
Penghujung November 2016, saya berkunjung ke kelurahan Rerewokan, di Minahasa, Sulawesi Utara. Di sana, saya mendapati masyarakatnya yang beragam suku dan agama hidup dalam satu kesatuan. Bahkan, agama Yahudi—yang di beberapa tempat seringkali mendapat diskriminasi—bisa hadir di tengah kehidupan warganya. Satu-satunya rumah ibadah bagi agama Yahudi pun tetap berdiri hingga kini.
Di lain tempat, sebuah desa yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi pun hadir di Gorontalo. Di sana, terdapat sebuah desa bernama Banuroja yang penduduknya terdiri dari tiga agama berbeda: Islam, Hindu, dan Nasrani. Mereka hidup rukun dalam damai, memuja Tuhannya sendiri-sendiri.
Rerewokan dan Banuroja adalah contoh kecil dari kemajemukan yang hadir di Negara Indonesia. Namun, meski hidup berdampingan dalam perbedaan, kedua tempat itu hingga kini masih jauh dari isu sentimen kelompok agama, suku, etnis, atau budaya. Hal ini membuktikan, jika masyarakat di dua tempat tersebut masih bisa hidup dalam keberagaman, dengan mengedepankan nilai-nilai toleransi. Hal yang baiknya bisa dicontoh oleh daerah lain di negeri ini.
Begitu sulitkah daerah lain dengan penduduk yang konon serba “mayoritas” itu menerapkan nilai-nilai toleransi? Ataukah mereka terlalu sibuk sebab saling lapor ujian kebencian? Atau mungkin masih menerjemahkan logo-logo? Atau karena mengurusi festival makanan yang juga memakan banyak waktu?
Mengutip salah satu tulisan Cak Nun yang saya temui di laman miliknya, “Kalau kebiasaan tidak dewasa, mudah mengutuk, dan tradisi saling menghancurkan ini terus kita nikmati. Maka mungkin yang perlu kita siapkan adalah ucapan ‘Selamat Tinggal Ibu Pertiwi’.”
Kemudian, saya pun khawatir, jika kelak keponakan saya yang baru berumur dua tahun ini akan bertanya, “Oom, mana yang benar, ungkapan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ atau ‘Bhinneka Tinggal Luka’?”
Lagu Efek Rumah Kaca dalam pemutar musik saya pun selesai, dan kini memutar lagu “John Lennon – Imagine”.***

Sumber gambar: di sini

You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe