Merangkum 2016

Januari 01, 2017


Seorang kawan mengajak saya untuk menghabiskan malam pergantian tahun di dalam sebuah hutan. Tentu ini adalah kabar yang menarik. Terlebih, orang-orang yang akan pergi ke hutan itu memang kawan-kawan saya juga yang terkenal sering membawa guyon-guyon segar lagi menyenangkan.

Menghabiskan malam ditemani suara-suara alam yang jauh lebih menenangkan ketimbang peledak-peledak itu sungguh adalah hal yang indah. Tapi, tawaran itu pada akhirnya saya tolak, sebab saya kadung membuat janji dengan yang lain.

Saya dan beberapa kawan yang lain sebelumnya telah berencana untuk melewatkan malam pergantian tahun di sebuah pulau yang berada di utara Gorontalo. Persiapan sudah mantap, rencana untuk bersenang-senang sepertinya akan berjalan menarik, apalagi kaleng-kaleng soda gembira pun sudah tersaji sempurna. Mengganti malam di bibir pantai tentu adalah hal yang mewah. Saya sudah membayangkan akan melahirkan beberapa tulisan terkait kesenangan-kesenangan malam itu.

Tapi apalah daya, ternyata semua berubah ketika Negara api menyerang. Eh, bukan…ternyata kenyataan berkata lain, saya tertidur dan mereka pergi tanpa saya. Duh.

Tak apa. Mungkin pergi bertemu laut bukan rejeki saya kali ini, walaupun saya memang sedang membutuhkan Vitamin Sea.

Gagal untuk menikmati kesunyian hutan dan merdunya ombak di laut, seorang kawan saya yang lain muncul melalui pesan di Telegram. ia datang membawa kabar yang kemudian mengajak saya untuk ikut menghabiskan malam di sebuah villa, tak jauh dari pelabuhan Gorontalo. Kabar ini tentu juga menyenangkan, apalagi di sana sudah ada jaminan bahwa saya akan mencicipi kopi buatan kawan saya yang baru saja dibelinya.

Tapi, alam bawah sadar ternyata menuntun saya untuk tidak serta merta meng-iya-kan ajakan itu. Entah apa yang ada di pikiran, tapi itulah pilihannya. Pada akhirnya saya hanya melewati malam ini dengan bertatap muka pada si layar komputer—dan ditemani bergelas-gelas air putih.

Seharusnya pergantian malam ini biasa saja. Entah dimana istimewanya. Yang membedakan sepertinya hanyalah kegaduhan-kegaduhan yang hadir baik di darat maupun di udara. Setelah pagi datang, semua akan tetap berjalan seperti biasa. Bukan begitu?

Tapi, yah.. begitulah adanya. Setiap manusia punya kebiasaan yang tak biasa saat menghadapi malam pergantian tahun. Selemah-lemahnya kegiatan, paling bakar ikan atau jagung.

Sambil menunggu suasana yang tak lagi bising akibat petasan serta kantuk—yang biasanya datang menjelang pagi, saya jadi ingin melihat kembali hal-hal apa saja yang sudah saya lewati setahun terakhir. Upaya saya merawat ingatan yakni dengan membuka foto dan beberapa akun media sosial.

Selain jadi tahu bahwa saya telah menambah 152 teman baru di akun Facebook, sepertinya saya memang mengalami banyak hal-hal yang menarik sepanjang setahun terakhir. 

Tak semua kejadian bisa saya tulis, berikut ini hanyalah sedikit cerita yang menurut saya menarik untuk dirangkum menjadi sebuah tulisan. Hal ini mungkin memang tidak menarik bagi orang lain. Tapi ya.. bodo amat.

Januari


Saat itu saya memulai pergantian tahun di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Gorontalo. Di sana, telah berkumpul kawan-kawan saya beserta sanak keluarganya. Bukan cuma suara petasan, tapi sekretariat kami juga riuh dengan sekumpulan anak-anak kecil dari masing-masing kawan saya.

Kami menggelar makan besar, siapa pun bisa datang untuk bergabung. Sebab sekretariat kami memang selalu terbuka untuk umum, bahkan untuk jemaah tabligh sekalipun.
 
Malam pergantian tahun 2016
Semakin malam suasana semakin ramai, setelah anak-anak mulai tertidur, tibalah giliran soda gembira untuk hadir mengambil peran. Seperti namanya, tentu ia berhasil membuat semua gembira. Hingga pagi menjelang.

***

Pertengahan Januari, kami sekeluarga (AJI Gorontalo) kembali membuat kegembiraan. Tapi, di balik kegembiraan itu ternyata menyimpan pekerjaan rumah yang cukup berat dan akan menyita banyak waktu.

Sebelumnya, kami baru saja membentuk kepengurusan yang baru, di penghujung Desember 2015. Dan sebagaimana mestinya sebuah organisasi, tentu perlu untuk membuat rapat-rapat, demi menyamakan isi kepala. Walaupun sebenarnya tiap kali membuat rapat pertemuan, kami hanya bertahan beberapa menit saja untuk serius, sisanya, akan dihabiskan untuk makan-makan dan.. saling mem-bully.

Agar beda dari biasanya, rapat perdana itu kami buat di sebuah bukit. Menghabiskan malam dengan membuat kemah serta bakar-bakar tentunya. Rapat yang menggembirakan.
 
Sebagian kecil dari para personil AJI Gorontalo. Percayalah, di balik wajah suramnya tersimpan banyak hal menarik. Bersiaplah menerima bully jika bertemu mereka.
Kelak, jika kalian berkunjung ke Gorontalo, mampirlah pula ke sekretariat kami. Selain bisa menemukan berbagai spesies dari para penghuninya, kalian akan bisa menemukan kopi menarik asli Gorontalo. Sebab kami menyediakan sebuah kedai kecil dengan barista-nya yang lihai meracik kopi.

Datang, dan mampirlah. Kemudian bersiap juga untuk merindu.

Februari


Dari beberapa hal yang terjadi di bulan Februari, ada satu memori yang kembali membuat saya harus bersinggungan dengan ingatan tentang kematian.

Ya, seorang kawan saya pergi menuju keabadian, Roi Rahmat.

Perkenalan saya dengannya bermula saat saya baru menginjak tahun ke-3 di Gorontalo, setelah dideportasi—ia juga mengalami hal yang sama—dari Ibukota. Perkenalan singkat, namun setelahnya kami sering terlibat dalam pelbagai kegiatan sosial yang dibuat oleh kawan-kawan kami juga.

Teman diskusi yang asik. Meski seorang lelaki dan merupakan sarjana hukum, ia sempat memutuskan untuk bergabung ke sebuah organisasi di Gorontalo yang konsen mengawal isu-isu perempuan.

Hari berganti tahun, ia pun akhirnya memutuskan untuk selesai dengan Gorontalo dan kembali mengadu nasib dengan ibukota. Kepindahannya sempat membuat saya iri, sebab sebelumnya kami berlomba-lomba untuk mencari tahu siapa yang terlebih dulu bisa keluar dari pulau ini.

Namun, belum sempat ia menaklukkan kerasnya ibukota, ia justru takluk lebih dahulu oleh penyakit yang bersarang dalam kepalanya. Ia tak lagi bisa mentraktir saya untuk membayar kopi.

Titip salam untuk Tuhan, kawan. Dan tunggulah kedatangan saya di kesempatan berikutnya.

Maret


Setelah melalui pertimbangan yang cukup panjang, akhirnya kami sekeluarga (saya, kakak, dan ibu) memutuskan untuk benar-benar meninggalkan ibukota.

Jika sebelumnya ibu saya seorang diri menantang hidup di ibukota, akhirnya saya memutuskan untuk membawa dirinya untuk ikut pindah bersama saya dan kakak yang sudah terlebih dulu menginjakkan kaki di Pulau Celebes.

Tentu ini adalah perpindahan yang sulit. Terlebih, setelah 20++ tahun lamanya kami menetap di sana—Condet lebih tepatnya, kami telah memiliki banyak teman, orang tua, dan saudara baru.
 
Rumah kecil yang di tengah itulah (ada seseorang duduk) tempat tinggal saya dan Ibu terakhir kali tinggal di Ibukota. Sebelumnya kami memang sering berpindah-pindah, meski hanya dari gang yang satu ke gang yang lain.
Pun di tengah hiruk-pikuknya, ibukota masih saja sempat-sempatnya bisa membuat saya rindu. Meski kini tak lagi tinggal di sana, sepertinya saya tak perlu khawatir jika berkunjung ke ibukota, sebab saya bisa hidup nomaden, memanfaatkan kawan-kawan di sana tentunya..hehe 

April


April adalah bulan yang selalu saya nanti-nanti kedatangannya. Selain bulan ini memang menjadi penanda bahwa saya pernah lahir ke dunia. Di bulan ini juga biasanya saya bisa merasakan hal-hal menarik menjelang hari istimewa itu.

Dan benar saja, di tahun 2016 lalu, saya merayakan hari istimewa di dalam hutan.
 
Salah satu pemandangan yang bisa di dapat bila berada di dalam hutan yang saya sempat kunjungi
Saya dengan beberapa kawan pergi ke salah satu hutan di ujung barat Gorontalo selama beberapa hari untuk melakukan peliputan. Di sana, kami mencari banyak data soal isu lingkungan serta kondisi sosial masyarakatnya.

Yang menarik perhatian saya lainnya adalah: ternyata, sejauh apapun saya pergi—hingga masuk ke dalam hutan—saya tetap menemukan orang Sunda.

***

Kami (AJI Gorontalo) kembali membuat kegembiraan di bulan ini. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, yang biasanya kami menggelar acara nonton bareng sederhana ditemani kopi dan kacang, kami terpaksa mengganti kebiasaan tersebut dengan membuat nonton bareng di bioskop. Lalu, film apa yang kami tonton?

Ada Apa Dengan Cinta 2.
Tiket Ada Apa Dengan Cinta 2
Rangga, kemunculanmu setelah satu purnama bukan cuma bikin penasaran si Cinta, tapi kami juga. Tapi sayang, melihat dirimu beradu akting dengan Cinta, kami malah seperti menonton FTV. Oiya, saya juga kecewa, kenapa idola saya si kakak Alya harus mati di film ini!

Mei


Bulan Mei berjalan seadanya. Tapi bila saya melihat timeline Facebook, sepertinya di bulan itu ramai sekali isu-isu tentang “kanan-kiri”, dan PKI. Hingga akhirnya saya memang menemukan kasus yang kembali menjadi perbincangan hangat di jagad dunia maya.

Seorang mahasiswa dan aktivis asal Maluku Utara ditangkap karena memposting foto dirinya yang tengah memakai kaus bertuliskan “Pecinta Kopi Indonesia”.

Duh, si Adlun Fikri kembali mendapat fasilitas cukur rambut gratis di markas coklat-coklat.

Entah kesialan apa yang kembali menimpa anak manusia yang satu ini. Saya yang sebelumnya tak pernah bertemu sekalipun dengannya merasa bahwa hal yang dialaminya itu adalah ketidakadilan yang dibuat-buat oleh Negara.

Kampanye dari banyak pihak mengalir deras agar dirinya dibebaskan. Dan beruntung, ia pun akhirnya memang dibebaskan, meski dalam keadaan botak.

Sepertinya menarik jika bisa bertemu dengan kamerad yang satu ini.

Juni


Bulan Juni datang, tak lama setelahnya bulan Ramadhan  pun hadir. Itu tandanya saya harus kembali puasa.

Semoga saya tak salah ingat, di bulan puasa kali ini saya berhasil menempuh 30 hari.

Oiya, berkat jasa seorang kawan, di bulan puasa ini juga saya mulai belajar merajut benang. Yang kemudian saya dengan beberapa kawan lainnya di Kedai, sempat kepikiran untuk membuat sebuah kelas belajar kecil dengan judul: Kelas Menyulam, Bonus Kelas Menyelam.

Juli


Lebaran tiba. Hari raya kemenangan tiba. Tapi di bulan itu saya mendapati timeline media sosial saya penuh dengan informasi tentang kekerasan yang dilakukan oleh aparat Negara kepada kawan-kawan Papua di Yogyakarta.

Beberapa orang ditangkap, sedangkan yang lainnya terpaksa harus terpenjara di dalam asrama mereka sendiri. Keberadaan ormas-ormas intoleran itu pun semakin memperkeruh suasana.

Agustus


Memasuki bulan Agustus ini, sepertinya saya akan terlalu banyak bercerita hal-hal melankolis.

Saya mengawali Agustus dengan keberuntungan. Di awal bulan ini saya ternyata berkesempatan untuk mengikuti SeHAMA 8. Ini adalah kesempatan terbaik saya untuk belajar banyak hal.
 
SeHAMA 8
Saya bingung hendak menuliskannya darimana, sebab Agustus memberikan saya banyak cerita.

Yang pasti, saya belajar benyak hal semenjak mengikuti SeHAMA 8. Di sana pula saya bertemu dengan sahabat-sahabat baru—salah satunya adalah si Adlun yang sebelumnya saya ceritakan.

***

Membicarakan Agustus, juga mengingatkan saya tentang persoalan jatuh rasa.

Ah, terlalu banyak cerita. Mungkin saya akan menuliskannya pada kesempatan yang lain saja. Intinya, di bulan ini saya terlalu bersenang-senang.

September


Bila Agustus menjadi awal dari pertemuan, maka September sepertinya adalah akhir dari cerita itu. Oh, tidak.. tidak.. ini belum tentu akhir dari cerita. Entah apa yang akan terjadi di 2017. Semoga menggembirakan.
Stasiun Bandung memisahkan saya dengan rindu.

Persoalan jatuh rasa ini membuat saya hanyut dalam suasana. Hingga pada akhirnya perpisahan dan jarak lah yang menjadi arus utama masalahnya.

Ah, cukup sekian bercerita melankolis…

***

Di bulan ini, bukan kejadian yang menggembirakan yang hadir di Sekretariat AJI Gorontalo, tapi hal yang amat-sangat-menyebalkan yang terjadidisana.

***

Di bulan ini saya memutuskan untuk menganggur.

Oktober


Lagi, seorang teman bercerita dan guru saya pergi menuju keabadian. Kali ini kabar duka itu berasal dari pendiri Komunitas Sastra Kalimalang, Ane Matahari.

Saya terlalu sedih untuk kembali bercerita soal kematian.

***

Saya baru saja mengalami perpisahan yang juga menyedihkan di bulan September, dan di bulan ini saya mulai merasakan dampaknya.

November


Aksi besar yang mengatasnamakan agama terjadi ibukota. Beruntung, saya tak lagi di sana. Saya mengawali minggu pertama bulan November dengan berangkat menuju ujung selatan pulau Celebes.
 
Saat berkunjung ke selatan, saya beruntung bisa menghadiri acara ini.
Walau hanya beberapa hari, tapi hal itu cukup membuat hormon Endorphine saya meningkat. Lumayan untuk sedikit mengalihkan perhatian akibat dari dampak perpisahan.

***

Setelah selesai dari selatan, sebelumnya saya berharap bisa terus melanjutkan perjalanan dengan menyeberang pulau. Harapan itu membesar bersamaan dengan rindu yang tak kunjung terbalas semenjak saya kembali dari SeHAMA 8.

Tapi ternyata jarum kompas mengarahkan saya ke tempat lain. Saya justru dibawa kembali untuk kemudian menuju utara Sulawesi.

Ini lagi-lagi upaya untuk mengalihkan perhatian saya.
Saya sempat ikut berlayar bersama salah satu nelayan di Pantai Malalayang, Manado, Sulawesi Utara.

Tapi hal itu memang justru menjadi hal yang menyenangkan. Saya menyimpan banyak cerita setelah berkunjung ke sana. Rencana untuk berkunjung selama 7 hari pun membengkak menjadi 20 hari.

Tapi, percayalah, sejauh apapun saya pergi, pikiran saya masih tertuju padamu, dear..

Desember


Baru di minggu ke-2 akhirnya saya kembali lagi menuju Gorontalo, setelah sekian lama mencari pelarian terhadap diri sendiri, yang untungnya masih bisa mengumpulkan beberapa cerita sepulang dari sana.

Tak ada cerita lain di bulan Desember. Selain saya yang gagal untuk bisa menikmati malam pergantian tahun di Hutan, Pantai, dan Villa. Tapi meskipun begitu, seperti kata trio Efek Rumah Kaca, “aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember”. 

Anjis, ga nyambung..

***

Yah, waktu terus berjalan, angka 2016 dalam kalender di gawai saya telah berganti menjadi 2017, dan 2016 memang berhasil memberikan saya banyak cerita.

Dan, oiya, sepertinya saya belum berhasil move on, dear... 

DUH!

You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe