Melihat Harmoni Keberagaman di Tondano

Desember 21, 2016

SYNAGOGE. Berada di tengah pemukiman warga di Kelurahan Rerewokan, Kecamatan Tondano Barat, Minahasa, Sulawesi Utara. Keberadaannya tidak membuat isu sentimen beragama berkembang di daerah itu
Gerimis masih turun saat Boni Pindas, 51, baru saja tiba di rumahnya, pada suatu sore di awal Desember. Boni adalah seorang petani. Rutinitas yang dimulainya sejak pagi hari adalah menggarap lahan yang ditanaminya dengan rempah-rempah dan sayuran beragam jenis.
Di dalam petak kebunnya, Boni biasa menanam cabai, tomat, sayur-mayur, dan jagung. Jika tiba waktu panen, hasil dari kebunnya itu kemudian dijualnya ke pasar-pasar terdekat, setelah sebagian digunakan untuk memenuhi kebutuhan di rumahnya.
Setelah bersih-bersih dan sejenak beristirahat, ditemani secangkir teh hangat, Boni mulai berbagi cerita kepada saya tentang kondisi sosial masyarakat di kampungnya.
Bersama sang istri dan seorang anaknya, Boni tinggal di sebuah rumah sederhana di Kelurahan Rerewokan, Kecamatan Tondano Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Selain menjadi petani, Boni juga menjabat sebagai Kepala Lingkungan, jabatan struktural yang berada langsung di bawah lurah.
Di kampungnya, Boni menjabat sebagai Kepala Lingkungan 2. Sudah menjadi tugas Boni pula untuk mendata warga yang berada dalam wilayah lingkungannya.
“Dari 4 lingkungan di Kelurahan Rerewokan, ada sekitar 600 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di sini. Paling banyak ada di Lingkungan 2, ada sekitar 200 KK,” jelas Boni.
Boni menambahkan, warga yang tinggal di daerahnya juga memiliki latar belakang suku, budaya, dan agama yang berbeda. Sebagian besar dari mereka beragama Kristen dan berasal dari Minahasa, dan ada juga dari Ambon. Selain itu ada beberapa suku dari pulau Jawa yang notabene beragama Islam.
“Di sini ada sekitar 5 gereja, ada Advent, Protestan, Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) dan Pantekosta. Walau tidak ada masjid di kelurahan sini, orang Jawa biasanya pergi beribadah ke kampung sebelah,” tambah Boni.
Meski hidup dengan kondisi masyarakatnya yang beragam suku, tak menjadikan lingkungan tempat tinggal Boni dan keluarganya dipengaruhi isu sentimen keberagaman. Apalagi isu terkait perbedaan keyakinan.
Tidak pernah terjadi kerusuhan antar umat beragama atau bahkan perusakan rumah ibadah di kelurahan ini. Diakui Boni, bila tiba saatnya hari-hari besar keagamaan seperti Lebaran atau Natal, warga yang berbeda agama pun akan saling berkunjung untuk berbagi kebahagiaan.
“Tidak pernah ada kerusuhan. Di sini tidak pernah ada masalah,” kata Boni.
Bahkan ada hal yang menarik lainnya yang juga hadir di sana. Selain mayoritas warganya beragama Kristen dan berdiri banyak bangunan gereja, di kampung ini juga diketahui terdapat sebuah Synagoge atau tempat ibadah bagi pemeluk kepercayaan Yahudi.
Synagoge di Tengah Kampung
Bangunan itu berada di salah satu sudut jalan di Kelurahan Rerewokan, Kecamatan Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara. Bentuk bangunannya tidak lazim seperti pada umumnya. Dengan desain atap berwarna merah yang menutupi hampir seluruh bangunan, selalu berhasil mengundang pertanyaan bagi siapa pun yang baru melewati jalan itu.
“Tempat itu sering kali kosong. Biasanya, orang pergi ke situ untuk berfoto. Dibuka juga cuma saat-saat tertentu, dan hanya sesekali terlihat ada orang di sana,” ujar Yunita Mamengko, 48, warga sekitar yang tinggal tak jauh dari bangunan tersebut.
Pagar besi bermotif Bintang Daud (Star of David) mengelilingi bangunan Synagoge. Tampilannya yang sudah mulai berkarat dan keropos di beberapa sisi, menandakan bangunan itu sudah sejak lama berdiri di tengah kampung.
Yunita menjelaskan, ada seorang Opa (kakek) yang tinggal di bangunan itu dulu. Semasa hidupnya, Opa itu dikenal baik dan sering membantu warga sekitar bila ada kegiatan keagamaan atau kerja bakti. Ia hidup seperti warga biasa lainnya. Lalu, beberapa tahun setelahnya, bangunan itu dibeli oleh seseorang dari Belanda, kemudian dijadikan tempat ibadah seperti sekarang.
“Sebelumnya, orang-orang di sini tahunya itu gereja Ortodoks. Ada juga tetangga-tetangga yang sering membantu membersihkan gereja di situ. Mereka juga bantu menjaga keamanan,” tambah Yunita.
Baru beberapa tahun setelahnya, warga sekitar mulai mengetahui bahwa tempat tersebut merupakan tempat ibadah bagi pemeluk kepercayaan Yahudi. Kendati demikian keberadaan Synagoge dan para jemaatnya yang hadir di sana, tetap tidak mengganggu harmoni keberagaman di tanah Tondano.
“Pertengkaran anak muda paling biasa, tapi kalau soal agama tidak ada,” kata Yunita.
Jejak Yahudi di Tanah Tondano
Shaar Hashamayim Synagogue, kalimat itu tertulis di atas pintu masuk Synagoge, dan ditulis dalam dua bahasa: Latin dan Ibrani. Kalimat tersebut memiliki arti Pintu Gerbang Surga jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Luas bangunan Synagoge hanya sekitar 10 x 15 meter. Ruang depan digunakan untuk ibadah, ruang tengah untuk pertemuan, dan sebuah ruang kecil di bagian belakang. Di bagian tengah ruang Synagoge itulah saya bertemu dengan Rabbi Yaakov Baruch.
Rabbi Yaakov Baruch, pria yang memiliki nama asli Toar Palilingan, 33, diketahui sebagai imam yang sering memimpin jemaat Synagoge saat beribadah. Rabbi sendiri merupakan sapaan seperti Ustad dalam agama Islam.
Toar bercerita, agama Yahudi sendiri mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1800-an. Mereka masuk bersamaan dengan para pedagang-pedagang Iran melalui jalur laut. Setelah tiba di Indonesia, diperkirakan mereka menyebar di Aceh, Padang, Surabaya, Makassar, Jakarta, Manado, dan beberapa kota besar lainnya.
“Ada dua kelompok Yahudi yang masuk. Pertama, dari orang Yahudi Eropa, masuknya banyak lewat Makassar, Aceh, dan Surabaya. Mereka dari Belanda. Ada juga Yahudi yang dari Timur Tengah, mereka juga masuk dari jalur Aceh sampai Surabaya dan berambut hitam seperti orang Arab. Di Manado, baik yang dari Belanda atau Timur Tengah, keduanya ada. Tapi yang lebih dominan dari Belanda,” jelas Toar.
Sejak adanya perpecahan Perang Dunia ke-2, banyak pengikut Yahudi di Jerman yang pergi mencari perlindungan ke wilayah lain. Mereka pergi menuju Amerika, Australia, hingga ke Indonesia. Para pemeluk agama Yahudi di Indonesia saat ini menyisakan keturunan-keturunannya, setelah sebagian dari mereka berpindah keyakinan. Mereka membaur dengan agama di mana mereka tinggal.
“Yang ada sekarang kebanyakan penganut, bukan keturunan. Belakangan ini ada euforia karena mereka mau masuk ke Yahudi. Agama Yahudi tidak melakukan syiar, sistemnya hanya seperti katak mencari kolam.”
Synagoge di Tondano awalnya merupakan rumah sang Kakek yang berdiri sejak 1996. Hingga pada tahun 2004 silam, bangunan tersebut dibeli oleh J. P. Van Der Stoop, orang Belanda keturunan Yahudi, yang kemudian merenovasi dan menghibahkan bangunan tersebut untuk dijadikan Synagoge.
Bangunan ini pun satu-satunya Synagoge yang tersisa di Indonesia, setelah sebelumnya pernah ada di Surabaya, namun dibongkar sebab terkendala sengketa tanah.
Synagoge biasa digunakan untuk beribadah setiap Sabtu pagi. Namun, kebanyakan dari pemeluk Yahudi di Manado dan sekitarnya hanya beribadah di rumah masing-masing. Meski begitu, Synagoge ini kerap didatangi turis yang beragama Yahudi – baik dari dalam maupun luar negeri – yang sengaja datang untuk menyempatkan beribadah secara langsung di Synagoge.
Tidak ada angka pasti terkait pengikut agama Yahudi di Sulawesi Utara. Toar dibantu para pengurus lainnya kini hanya fokus dengan keberadaan Synagoge dan upaya merawatnya.
“Sejauh ini tidak ada masalah, karena kami tidak mencari pengikut. Kami di sini juga tidak aneh-aneh, dan tidak melakukan ritual aneh-aneh. Cuma biasa-biasa, jadi tidak masalah. Dari pihak keamanan juga sering memantau untuk berjaga-jaga,” ujar Toar.
Pria yang juga berprofesi sebagai staf pengajar di Fakultas Hukum, Universitas Sam Ratulangi, Manado itu pun berharap agar keberadaan orang Yahudi juga bisa dilindungi dan tidak mendapat gangguan. Menurutnya masyarakat umum saat ini sering kali salah mengartikan antara Yahudi dengan paham Zionisme.
“Orang-orang euforia yang mengaku Yahudi ini juga kebanyakan provokatif sebenarnya, yang justru membuat kondisi saat ini jadi lebih runyam. Saya mencoba untuk netral dengan tidak mencampuri urusan politik, sebab kami pun juga ingin damai.”
Negara dan Agama
Dalam penjelasan Pasal 1 UU Penodaan Agama, dinyatakan bahwa agama-agama yang dipeluk oleh penduduk Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khong Hu Cu. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa agama-agama lain dilarang di Indonesia.
Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 berbunyi: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu. Para pemeluk agama di luar enam agama itu pun dibiarkan keberadaannya selama tidak melanggar peraturan perundang-undangan di Indonesia.
Dasar hukum lainnya yang menjamin kebebasan beragama di Indonesia juga diatur dalam Pasal 28E ayat (1) UUD 1945: Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah Negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia di tahun 2010 mencapai sebanyak 237,6 juta jiwa. Dari jumlah sebanyak itu: 87,18 persen di antaranya penganut Islam; 6,96 persen penganut Kristen; 2,9 persen penganut Katolik; 1,69 persen penganut Hindu; 0,72 persen penganut Buddha; dan 0,05 persen penganut Khong Hu Cu.
Sisanya, sebanyak 299,6 ribu jiwa atau 0,13 persen penduduk diketahui menganut di luar agama resmi pemerintah. Dan yang lainnya, sebanyak 896 ribu lebih jiwa atau sekitar 0,38 persen, belum diketahui status agamanya.
Sebagaimana dikutip dari independen.id, Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin, dalam orasi kebudayaannya saat HUT ke-22 Aliansi Jurnalis Independen di Jakarta 22 Agustus 2016 lalu mengatakan: Keberagamaan adalah jati diri bangsa Indonesia yang pertama. Jati diri kedua adalah komitmen akan nilai-nilai kemanusiaan.
Karakter itulah yang dianggapnya menjadi bagian dari kemanusiaan universal, yang menghormati hak-hak kemanusiaan secara adil dan beradab dalam upaya memanusiakan manusia. Ia juga menambahkan, bahwa meskipun beragam dalam banyak hal, bangsa Indonesia punya ikatan dan jalinan yang saling mempertemukan satu sama lain, membentuk persatuan.
Hal itulah yang terjadi saat ini di Kelurahan Rerewokan, Tondano Barat, Minahasa, Sulawesi Utara. Meski warganya terdiri dari berbagai macam suku, namun harmoni kehidupan sosial masyarakatnya tetap terjaga dengan penuh rasa aman. Jauh dari isu sentimen agama yang sering terjadi di kota-kota besar di Indonesia saat ini.***


Artikel ini sebelumnya telah dipublikasikan di media degorontalo.co dengan isi dan judul yang sama. Untuk melihatnya langsung silahkan kunjungi link ini: Melihat Harmoni Keberagaman di Tondano


You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe