Tentang Kosong dan Hal yang Belum Selesai

Oktober 13, 2016


“…pada suatu titik, sesuatu pasti berasal dari ketiadaan… (Jostein Gaarder)”


Sepertinya sejak sebulan terakhir saya menjadi jauh lebih akrab dengan satu kata ini: kosong. Kata itu muncul begitu saja, bahkan dari orang-orang terdekat yang pernah saya temui.

Sebuah kata yang: tidak berisi, tidak berpenghuni, hampa; berongga, tidak mengandung arti, tidak bergairah, tidak ada yang menjabatnya; terluang, tidak ada sesuatu yang berharga (penting), tidak ada muatannya, tidak pandai; tidak cerdas, dan nol. Fiuh…ternyata Kamus Besar Bahasa Indonesia punya banyak penjelasan tentang arti kata tersebut.

Sedikitnya saya sependapat dengan Heraclitus (kira-kira 540-480 SM lalu), rekan sezaman Parmenides, salah satu dari para filosof alam. Katanya, segala sesuatu mengalami perubahan terus menerus, “segala sesuatu terus mengalir”.

Ya, walaupun ada juga sebenarnya sesuatu hal yang tetap kekal, dan tidak berubah sejak diciptakan. “Sesuatu dari segala sesuatu dalam segala sesuatu”. Ah, cukup sampai disini bicara filosofis sudah!

Saya percaya bahwa “kosong” itu masih merupakan bagian dari perubahan. Tentu ada kondisi dimana sebelumnya tidak menjadi kosong, kan? Duh, pertanyaan ini jadi berbanding terbalik dengan kutipan di paling atas.

Oke, bukan mengarah ke situ pertanyaannya, tapi lebih ke: sampai kapan kondisi kosong (saya lelah memberikan tanda kutip) itu akan bertahan?

Beberapa orang terdekat saya mengatakan bahwa dirinya merasa kosong. Untuk menanggapi hal tersebut biasanya saya akan menyambungnya dengan pertanyaan seperti, “waduh, kenapa?”, atau, “loh, kok bisa?” Dari situ juga biasanya ada banyak cerita menarik yang keluar.

Beberapa diantaranya perlu waktu untuk menerawang jauh ke belakang, sampai akhirnya bertemu dengan sebab-akibat. Menjadikan kosong sebagai hasil dari kejadian di masa lalu.

Yang lain mengibaratkan seperti menuangkan air yang ada dalam bejana, semakin dituangkan, semakin terasa kosong. Meski kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan yang mengarah pada dirinya sendiri, “Atau mungkin ini memang bagian dari fase kehidupan?”

Sedangkan sisanya, tidak mengetahui alasan kenapa bisa berada dalam kondisi kosong.

Sampai disini saya tidak berkeinginan untuk menarik garis kesimpulan atas beberapa alasan tersebut. Walaupun, sepertinya terlihat menarik bila bisa menghubung-hubungkannya.

Dalam banyak hal, saya juga tidak terlalu suka bila berada di kondisi yang terlalu ramai, bising, dan penuh hiruk-pikuk kegiatan. Bila diberi pilihan, saya akan memilih tempat yang jauh lebih sunyi, sepi, atau yaa…lebih menarik bila dibilang: kosong. Keadaan tersebut bisa membuat diri menjadi jauh lebih bisa berekspresi, lebih tenang, dan damai, mungkin.

Dalam beberapa kesempatan, saya sering melakukan hal itu. Pergi menyendiri: entah mengunjungi laut, berbicara dengan hujan, bermimpi dalam kamar gelap, atau menikmati tarian senja. Atau bila hal itu tak bisa dilakukan, saya akan berkeliling dengan kendaraan umum, berkunjung ke beberapa tempat (seperti taman, pentas seni, museum, misalnya), atau: tidur. Saya menikmati kekosongan itu.

Tapi di sisi lain, sebenarnya kekosongan itu tidak benar-benar kosong. Pada akhirnya ia tetap membutuhkan seseorang lainnya untuk minimal diajak berbicara (?).

Saya ingin mengajakmu berbicara, bercerita tentang banyak hal. Bercerita tentang hal-hal bodoh, bercerita tentang mencari penegasan, bercerita tentang tuhan, bercerita tentang hal yang terjadi sebentar namun meninggalkan pengaruh besar, bercerita untuk mencari keseimbangan, bercerita tentang kekalahan, hingga bercerita tentang hal-hal yang menggembirakan.  

Saya bersama kekosongan ini ingin bercerita denganmu, untuk kemudian mengisi ruang-ruang kosong dalam dirimu. Bukankah kosong bisa juga menjadi hal yang bagus untuk memulai rindu?

Ah, saya jadi ingin mendengarkan lagu ini...


***

Tiap-tiap dari diri manusia memiliki masalah tersendiri. Namun yang namanya masalah, sepertinya tetap melibatkan orang lain. Entah sebagai penyebab, atau yang membantu menyelesaikannya. Seandainya pikiran kita cukup sederhana untuk bisa dipahami, tentu masalah yang menurut kita “datang dari diri sendiri” bisa dengan mudah terselesaikan.

Saya pikir, akan lebih terbuka kesempatan untuk menyelesaikan masalah itu jika diselesaikan dengan dibantu oleh individu lainnya.

Entahlah, tapi setidaknya saya masih percaya hal itu, meski saya juga masih belum selesai dengan diri saya yang pemalas. Namun, saya juga sependapat bila ada pernyataan yang berkata bahwa keberadaan individu bisa merubah individu yang lainnya. “Ada yang ‘ada’ sebentar, tapi meninggalkan pengaruh begitu besar”.

Kemudian, tibalah untuk mengulang pertanyaan-pertanyaan sebelumnya: sampai kapan kondisi belum selesai dengan diri sendiri itu akan bertahan?

Saya ingin mengutip karya surayah Pidi Baiq yang digambarkan dalam Dilan saat bicara pada Milea, “Aku tidak ingin mengekangmu, terserah! Bebas kemana engkau pergi! Asal aku ikut”.

Saya percaya banyak hal yang bisa lebih mudah untuk diselesaikan dengan bersama.


“…yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Sebagai penutup, saya sedang tergila-gila dengan lagu dari grup musik asal Bali ini. Lagu yang sederhana, namun menyenangkan...






Sumber gambar: Flickr

You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe