Mendengar Senja Bernyanyi

Oktober 26, 2016


Hujan masih saja mengguyur bumi Serambi Madinah saat saya mulai membuat tulisan ini. Sejak siang hari ia turun, dan sekarang sudah menuju tengah malam.

Keberadaan hujan selalu membuat cerita, entah cerita dalam sukacita atau bahkan malapetaka.

Dalam beberapa kondisi tertentu saya menyukai hujan. Hujan itu terkadang membuat suasana menjadi asik, dan keberadaannya selalu bisa untuk dijadikan alasan saat saya ingin bermalas-malasan, untuk kemudian bermimpi penuh harap. Tapi kali ini saya sedikit resah pada hujan, sebab ia membuat saya terjebak di kampus. Terpaksa sudah pulang dalam keadaan kuyup.

Ah, tapi saya sedang tak ingin membicarakan hujan atau pun perempuan hujan.

Membicarakan hujan jadi mengingatkan saya pada salah satu tulisan Paman Themmy, salah satu sosok idola saya dari ujung utara pulau Sulawesi. Paman Themmy yang biasa bekerja untuk mengolah tulisan dengan topik seputar isu lingkungan, dalam salah satu tulisannya membahas asik tentang Hujan Dalam 1 Playlist.

Hhmmm… menarik, saya terpikir untuk ikut membuatnya. Biarlah saya dicap sebagai orang yang tak kreatip nan alay kali ini. Toh, sepertinya memang begitu.

Tapi saya tak mau benar-benar mengikuti Paman Themmy. Jika ia membahas hujan, saya akan menggantinya dengan: Senja.

Saya suka dengan suasana senja. Apalagi saat bisa melihat senja berganti kulit dengan orang yang terkasih. Sungguh, tak ada yang lebih romantis.

Sama seperti Paman Themmy, saya ternyata juga punya beberapa lagu andalan tentang senja. Saya akan bercerita sedikit dari beberapa lagu ini. Tentu dengan tafsiran saya sendiri.

Semoga selera musik kita sama, dear…

Angsa & Serigala - Kala Langit Telah Senja

Kapan terakhir kali Anda berpisah dengan orang terkasih?

Perpisahan memang menyebalkan. Apalagi efek setelahnya. Angsa & Serigala coba mengingatkan kita untuk selalu bersiap dalam menghadapi sebuah perpisahan. Kata mereka, Ikhlaskan jiwa ku tau kau pasti bisa. Selalu ceria luka bukan masalah”. Lagu ini cocok untuk mereka yang memang memilih untuk pergi.

Tapi mereka juga bilang, ketika Anda memutuskan untuk pergi, ingatlah bila ada seseorang yang akan menanti saat Anda kembali. Entah untuk memadu rasa lagi dengan Anda, atau kemudian mereka bilang, “Tuh kan, nyesel kan lu udah pergi”.

Saya tahu mereka mencoba untuk bijak pada para pendengarnya. Tapi, sungguh, menghadapi sebuah perpisahan itu adalah hal yang sulit.

Move On itu sulit, dear. Kau pasti tahu itu..


Banda Neira – Senja di Jakarta

Untuk kalian yang tinggal di kota besar, terkhusus di Ibukota, sudahkan kalian menikmati senja?

Bisa benar-benar menikmati senja saat berada di sebuah kota besar adalah hal yang langka. Waktu senja di Jakarta adalah saat dimana waktu berubah rasa menjadi yang tersibuk, yang mampu membuat darah kita menggelinjang dari ukuran normal.

Bagaimana bisa kita melihat matahari dengan syahdu tenggelam di ufuk barat saat sibuk mengejar kereta, atau saat sedang berlapang dada menghadapi macet yang terasa seperti tanpa ujung?

Duo Banda Neira ingin merubah hal itu. Yah, meski tengah berada dalam ibukota dengan segala keruwetannya, minimal kita diharapkan bisa tetap menikmati senja dengan cara selemah-lemahnya iman.

“Bersepeda sepulang kerja. Kenyang hirup asap kopaja. Klakson kanan kiri berbalasan. Oh, senja di Jakarta…”

Jakarta memang ruwet, tapi ia meninggalkan banyak cerita buat saya. Saya tak begitu ingat dimana terakhir kali saya menikmati senja di Jakarta, yang saya ingat, dua bulan lalu saya ternyata kembali jatuh di lobang yang me-nyesek-kan bernama cinta dengan seseorang. Jatuh dalam pandangan pertama, siyalnya.


White Shoes and The Couples Company – Senja Menggila

“Berat terasa! Senja semakin gila. Setiap orang ingin tinggal di kota!”

Jika Banda Neira mencoba untuk mengajak menikmati senja dengan cara seadanya, White Shoes justru mempertegas bahwa senja di ibukota itu memang hal yang terasa gila, terkadang.

Sebagian orang memang mungkin bisa menikmati senja dengan cara yang asik, tapi di sisi lain masih banyak juga para pengadu nasib yang tengah berjuang untuk hidup di ibukota kala senja datang.

“Cari-mencari, mengumpulkan rejeki. Sedikit banyak, untuk sesuap nasi ,” kata White Shoes.

Konon katanya, ibukota memang jauh lebih kejam daripada ibu tiri. Tapi, ibukota memang selalu menjadi tempat yang menarik bagi banyak orang sepertinya. Hal itu juga yang dijadikan oleh White Shoes sebagai alasan untuk penyemangat bagi mereka yang tengah berjuang di ibukota di akhir lagunya, “Menyambut sinar mentari kota, membasuh peluh menderai jiwa. Berpadu satu menuju cita, bersama makmur sejahtera”.

Ah, sepertinya saya juga jadi tertarik untuk kembali ke ibukota. Setidaknya peluang untuk menuntaskan rindu jauh lebih besar.


Superman Is dead – The Opening (Ketika Senja)

Lepas dari cerita hiruk-pikuk ibukota, bli-bli Superman Is Dead mengajak kita kembali untuk optimis. Hal itu menurut mereka bisa dilakukan sejak senja perlahan mulai tenggelam.

“Ketika senja perlahan mulai tenggelam, di balik gelap kan datang kemenangan”.

Kata-kata penuh optimis dikeluarkan, mengajak para pendengar untuk tetap terlihat kuat. Kalau tak terlihat kuat dan berotot seperti Boby, Jerinx, dan Eka, minimal Anda para pendengar bisa kuat sejak dalam hati dan pikiran.

Ah, hal ini juga berlaku buat saya yang masih berjuang untuk move on sepertinya.
Kalimat pamungkas dari Superman Is Dead itu berbunyi, “Our dreams are made of steel tonight, and our heart is forever strong. The Kingdom of our ignorance we will see they fall again”.

Susah memang rasanya untuk Move On


NTRL – Langit Senja

Ini yang asik, jika sebelum-sebelumnya senja dikaitkan dengan sebuah kepergian, maka om-om dari NTRL membelokkannya dalam sebuah cerita tentang pulang dan kembali.

Membalutnya dengan alunan musik yang cadas, keras, dan ritme yang melaju cepat, lagu ini tetap asik, dan berhasil menambah kerinduan saya pada seseorang nan jauh disana itu. Yah, tapi akumah apa atuh…

Om-om NTRL menggambarkan suka cita yang mestinya bisa terjadi saat senja datang. Senja menurut om-om ini adalah hal yang romantis lagi bisa menggembirakan.

Ah, tentu sangat menyenangkan bila senja telah datang, kemudian ada orang terkasih yang selalu menunggu kepulangan kita. Syit, saya iri dengan mereka yang seperti itu!

“Waktunya telah tiba kembali dalam pelukan. Waktuku untuk pulang bertemu denganmu kekasih yang tercinta. Aku Pulang!”.


Senar Senja – Bersenjagurau

Lagu ini sepertinya memang kelanjutan dari lagu NTRL – Langit Senja. Di sini, duo gitar Senar Senja kembali memetikkan suasana senja yang asik. Tentu dengan yang terkasih.

“Lupakan gundahmu, luapkan senyummu, lukiskan manisnya. Bersenjagurau, berdua denganku”. Siyalan, lagu ini mempersulit perjalanan Move On saya.

Sungguh, meski lagu ini asik, tapi tak disarankan untuk mereka yang tengah berjuang untuk melawan ingatan dari doski.

“Langit senja bawa aku bermain bersama di hari yang cerah. Kicau burung bernyanyi lah, temani hangatnya senyuman indahnya,” tuh, lirik lagu ini memang asik, tapi menyentil di beberapa sisi. Setidaknya itu bagi saya.


Payung Teduh – Menuju Senja

Siapa yang belum kenal Payung Teduh? Ah, bila belum, Anda harus segera mendengarkan beberapa karyanya. Kemudian bersiaplah tenggelam dalam beberapa fantasi.

Bagi para penikmat Payung Teduh, tentu punya alasan masing-masing kenapa karya yang satu ini menjadi karya favorit bagi banyak orang. Mas-mas dari Payung Teduh selalu saja berhasil menghipnotis pikiran para pendengarnya memalui karya mereka yang ajaib.

Tidak-tidak, Menuju Senja bukan juga sebagai lagu tentang mereka yang putus asa. Hanya saja, yaa…Mas Is sepertinya memang paham benar kondisi hati bagi mereka yang tengah patah hati. Duh, saya akan semakin terlihat curhat jika membahas lagu yang satu ini.

“Bersama setangkup bunga cerita yang kian merambat di dinding penantian, ada yang mati saat itu, dalam kerinduan, yang tak terobati…”

Ah, saya benar-benar rindu, dear…


MORFEM – Senjakala Cerita

Saya langsung jatuh hati dengan lagu ini saat mendengarnya beberapa tahun lalu. Abang-abang MORFEM memang tidak banyak bercerita tentang suasana senja atau matahari tenggelam, mereka justru bercerita bagaimana jadinya jika “jatuh dalam pandangan pertama” itu terjadi saat senja.

Sepertinya ini inti klimaks dari perjalanan cerita senja saya. Siyal.

Ku membuka pintu depan, terkejut gembira melihat dikau kian bersahaja, nampaknya…”
Sulit rasanya menemukan kata yang benar-benar bisa menggambarkan rasa saat kembali bertemu dengan seseorang yang telah lama dirindukan. Terlebih, ia adalah lawan jenis dan bertemu saat senja datang. Senang? Tentu lebih daripada itu. Sesaat, saya jadi teringat film Before Sunset.

Bisa bertemu dengan seseorang yang sangat dirindukan tentu membuat dunia serasa milik berdua, yang lain hanya ngontrak. “Dan menu terhidang seakan kita abaikan. Kita bicara tentang dunia di sudut pandang berbeda arahnya”.

Saya percaya jika rasa kosong dalam diri itu bisa kita ubah dengan bersama. Tunggu saya pulang, dear…

“Ku terbawa suasana nikmati gerak bibirmu cerita, larut dalam gelak tawa. Berharap waktu berhenti berputar, beberapa jam saja, semoga…”

Tunggu, tunggu, saya tentu tak mau kiamat malah terjadi saat saya tengah menuntaskan rindu.


***


Ah, sekiranya itulah lagu-lagu senja yang saya punya, dengan beberapa cerita di baliknya.  Kau punya lagu apa tentang senja? Boleh kita dengar bersama?

You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe