Panjang Umur, Zis!

April 19, 2016

Perkenalkan, kawan saya, nama lengkapnya Azis Irawan. Lelaki keturunan Serambi Mekkah ini tidak akrab disapa Bunga apalagi Rangga, teman – temannya biasa memanggilnya dengan: Azis.

Saya mulai mengenal dekat lelaki yang dilahirkan sebagai anak pertama itu saat di bangku Sekolah Menengah Pertama. Iya, waktu itu – saat baru masuk kelas dua – entah karena sebab apa saya bisa duduk bersebelahan dengannya (dan itupun berlanjut hingga ke kelas tiga).

Meski seringkali pelit untuk memberikan jawaban - jawaban dari soal Matematika yang rumit, ternyata tak sulit bagi kami untuk kemudian saling mengakrabkan diri.

Berteman dengannya adalah hal yang menyenangkan, meski banyakkali kami bersinggungan pendapat dan meributkan hal – hal kecil (seperti apakah Naruto dan Goku adalah saudara tiri, misalnya), perbedaan itu tidak memisahkan kami untuk tetap berkawan.

Dari kiri ke kanan: Fahmi, Azis, Arie, dan Saya. Foto ini diambil beberapa belas tahun lalu, di sebuah kebun raya, di daerah Bogor, Jawa Barat.
Selepas SMP kami mulai berpisah, perbedaan untuk melanjutkan jenjang pendidikan berikutnya adalah alasan utama. Namun meski terpisah, saya, Azis, dan beberapa kawan lainnya selalu berusaha mencuri sedikit kesempatan untuk sekedar bisa menyeduh kopi secara bersama. Dan itu tetap berlaku hingga kami saling terpisah antar pulau dan negara.

Saya beruntung bisa mengenal dan memiliki kawan seperti Azis. Tidak bermaksud melebih – lebihkan seperti dalam drama, namun, bisa mengenal sosok sederhana seperti dirinya adalah hal yang cukup bisa membuat saya banyak bercerita.

Mengenal seseorang seperti Azis, mengajarkan saya bagaimana hal yang sebenarnya mudah tetapi malah bisa dijadikannya terasa sulit.
Mengenal seseorang seperti Azis, mengingatkan saya bahwa semangat bisa didatangkan dari hal – hal di sekitar.
Mengenal seseorang seperti Azis, mengajarkan saya bagaimana tetap hidup sederhana di tengah hiruk – pikuknya kemewahan.
Mengenal seseorang seperti Azis, mengingatkan saya bahwa sejak beberapa tahun lalu saya memiliki seorang kawan bernama Azis.

Tapi, jangan dulu besar kepala, Zis. Sebenarnya saya memiliki beberapa kawan yang tak jauh berbeda dari diri elu. Namun, berhubung kemarin adalah tanggal dimana diri lu dihadirkan kedunia lebih dulu, maka saya sengaja menuliskan 362 kata ini khusus untuk diri lu. Tidak hebat, bukan?

Sungguh, Zis, melalui tulisan ini saya tidak bermaksud untuk meminta traktiran seperti kawan – kawanmu pada umumnya. Cih, itu hal kuno. Masa untuk kawan sendiri harus sampai dimintai seperti itu? Harusnya bisa sadar sendiri, bukan?

Panjang umur, kawan. Sehat dan berbahagialah selalu..

Oiya, sudah lama kita berhutang cerita. Sepertinya ada bunga baru yang tumbuh, ya?

You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe