Reza dan Sekotak Tisu

September 06, 2015

Reza saat beristirahat dari berjualan tisu.

Suatu sore saya memiliki janji untuk bertemu dengan seseorang yang memiliki rindu. Tibalah saya di sebuah stasiun dengan nama salah satu pejuang kemerdekaan yang berada di daerah Jakarta Pusat.

Sore itu sekitar pukul empat, saya tiba kurang lebih satu jam lebih dulu dari waktu yang ditentukan. Karena sedikit bingung mau kemana dan sudah lama tak mengenal daerah sekitar, saya memutuskan untuk menunggu di areal stasiun saja.

Saya duduk di depan sebuah supermarket, setelah sebelumnya membeli sebotol minuman isotonik yang katanya bisa menggantikan ion-ion tubuh yang hilang karena kelelahan.

Banyak orang berlalu-lalang, saat itu sudah memasuki jam pulang kantor sepertinya. Semua orang terlihat sigap, mencuri-curi langkah agar bisa lebih cepat sampai di tujuan masing-masing. Gerbong-gerbong kereta yang beberapa kali melintas pun dengan gagah membawa ratusan ribu jemaatnya setiap saat. Namun, beberapa diantaranya adapula yang berdecit, seperti mengisyaratkan dirinya tak lagi mampu untuk bergerak.

Diantara keriuhan suasana stasiun itu saya bertemu dengan seorang kawan kecil baru.
Di awal pertemuan, saya hanya memperhatikannya dari jauh. Dengan tubuh kecil dan rambutnya yang pirang coklat ia pergi kesana-kemari membawa sebuah kotak plastik dengan tutupnya yang berwarna biru. Dari kotak plastik itulah ia mengeluarkan sebuah benda yang pasti jadi kebutuhan bagi siapapun.

“Tisunya, mbak. Tisunya… tiga ribu aja, mbak,” ujarnya sambil menyodorkan tisu ke seseorang yang tengah duduk di pelataran stasiun.

Saya masih memperhatikannya sambil sesekali melihat layar telpon, menunggu kabar seseorang itu. Setiap orang yang melintas atau yang berada di depan si bocah itu, sebisa mungkin ia tawarkan, hingga tibalah giliran saya.

“Berapaan, dek?”

“Tiga ribu aja, bang.”

“Oke, saya mau satu.”

Saya pun mempersilahkannya duduk di samping saya, menganjurkannya untuk beristirahat sejenak dari kesibukannya di sore hari. Dan saya pun berkesempatan berbagi cerita dengannya.

Bocah berambut pirang itu bernama Reza. Ya, hanya itu namanya, tanpa embel-embel lain.

Keseharian Reza adalah berjualan tisu. Setiap harinya ia memiliki target untuk menjual sepuluh bungkus tisu yang diteruh di dalam kotak plastiknya. Hasilnya buat apa? Untuk membantu sang ibu dan ayahnya yang bekerja sebagai pencari barang-barang bekas.

Reza mengaku tinggal di pasar bersama keluarga kecilnya. Tak jauh dari stasiun yang menjadi wilayah kerjanya setiap hari. Dari perawakannya, yaa, kira-kira ia berumur empat sampai lima tahun (menurut saya).

“Kamu udah sekolah belum?”

“Belum, bang.”

“Tapi mau sekolah ngga?”

“Mau, bang. Tapi nanti, kalau umurnya udah enam tahun.”

“Emang sekarang umurnya berapa?”

“Sepuluh tahun, bang.”

Reza mengaku mempunyai seorang saudara laki-laki, namun, saat ini sang kakak tengah melanjutkan sekolah dasarnya di kampung halaman, Bogor.

Pukul lima sore sudah lewat, Reza mulai menghitung-hitung hasil berjualannya hari itu. Reza terlihat pandai mengenal nilai uang dari warna dan bentuknya, namun, sepertinya ia kurang lihai dalam perhitungan.

Sore itu barang dagangan yang dibawa Reza tersisa tiga bungkus saja, setelah seorang lelaki lain membelinya sebungkus lagi.

Kini, penghasilan yang bisa dibawa pulang Reza menjadi tiga puluh satu ribu rupiah (setelah saya menghitungnya). Bersamaan dengan itu, seseorang yang saya tunggu pun datang. Reza juga mulai bersiap untuk melanjutkan aktifitasnya.

Dan akhirnya, kami saling pamit berpisah.

***

Reza adalah salah satu diantara ratusan ribu (mungkin) orang yang terpaksa bergelut dengan riuhnya kehidupan ibukota. Dan saya sering salut dengan orang seperti mereka.

Di usianya yang masih dini, ia sudah harus berjuang dan harus bisa merasakan nafas ibukota yang mungkin kian terasa berat. Dan belum tentu orang dewasa lainnya mampu melakukan seperti apa yang dilakukan Reza.

Panjang umur, Reza dan keluarga! Semoga apapun keinginanmu bisa tercapai, kelak.  Hidup bebaslah, tak usah risau dengan para kelas-menengah-menyebalkan itu. Kamu mungkin tak membaca ini, tapi tenang saja, doa terbaik selalu ada untukmu.

Merdeka!

Oke saatnya saya melepas rindu..hehehehe





Reza tinggal di Pasar Blora, wilayah kerjanya berada di Stasiun Sudirman dan sekitarnya. Bila kawan bertemu disana, berbagilah kebaikan sedikit dengannya..hehe

You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe