Bu Nur, Guru “Galak” Sekaligus Menyenangkan

November 25, 2014

Foto: Akademi Berbagi

Ngomong-ngomong soal guru, sayah jadi ingat salah seorang guru waktu jaman SD dulu.

Nama Panggilannya Bu Nur, sayah mengenal beliau waktu dirinya menjadi wali kelas sayah di kelas 3 SD.

Bu Nur terkenal sebagai guru yang "galak" waktu itu. Dirinya tak segan-segan memberikan hukuman apabila kami anak didiknya melakukan kesalahan.

Kesalahan yang sering kami lakukan semisal, malas mengerjakan tugas, sering bercanda dalam kelas, hingga lupa kalo belum potong kuku!

Kalo sudah begitu, siap-siap saja..

Beberapa kali sayah pernah juga dapat giliran hukumannya. Mulai dari sekedar berdiri di depan kelas sampai merasakan hangatnya pelukan penggaris kayu.

Jangan lupa, hukuman bisa juga berubah-ubah, menyesuaikan situasi dan kondisi.

Aah..sayah masih ingat rupa Bu Nur kala itu, rambutnya pendek,  badannya sedikit gemuk, biasa menggunakan rok “nanggung” (tidak pendek, tidak panjang), tasnya berwarna hitam “khas” ibu-ibu, dan kalau datang ke sekolah suka naik ojek. Kalau sudah marah, matanya melotot, suaranya keras, membuat seisi ruang kelas seketika jadi horror!

Dulu, seringkali sebelum masuk kelas, pikiran yang ada dalam kepala kami hanyalah, “semoga hari ini baik-baik saja”. Tak jarang kami juga berpikiran, “Semoga Bu Guru nggak masuk kelas!”

Ketakutan akan cubitan kecil, tugas menumpuk, serta penggaris kayu seringkali datang bersama kami. Namun, belakangan sayah mengerti, kalo apa yang Bu Nur lakukan pasti punya alasan terbaik, tentu.

Ya, meskipun begitu, Bu Nur adalah guru kami. Beliau tak segan mengajarkan setiap pelajaran sampai kami mengerti betul. Beliau juga adalah guru yang baik, meski penampilannya menyeramkan, kadang. Selain itu, kami juga sering mengadakan diskusi di luar kelas kalau ada pelajaran yang belum dimengerti.

Dan, yang paling asik adalah…saat sayah disuruh membawa handphone Nokia 3315 miliknya, untuk kemudian dibawa ke Counter terdekat dan diisikan pulsanya. Yaa, meskipun kadang bikin malas, tapi lumayan lah sisa uang untuk beli pulsa bisa jadi tambahan uang jajan.

Itulah Bu Nur, guru “galak” sekaligus menyenangkan. Berkat dirinya sayah dan teman-teman bisa mendapatkan ilmu-ilmu baru di sekolah. Berkat dirinya sayah belajar kehidupan. Berkat dirinya pula sayah bisa mengerti kalo jadi guru itu harus mampu menghadapi puluhan kepala yang berbeda isinya.

Dan ada satu nasehat Bu Nur yang masih sayah ingat. Disela-sela proses belajar di kelas, dirinya pernah bilang, “Nak, kalau kalian sudah bekerja nanti. Jangan pernah lupakan orang tua kalian. Jikalau mampu, uang pertama yang kalian dapat dari hasil kerja kalian sendiri, berikanlah kepada orang tua kalian. Dengan begitu, rezeki kalian tak akan putus..”

Ya, semoga Bu Nur selalu diberkahi hidupnya. Doa sayah pribadi, yang terbaik selalu untuk Bu Nur.
Dan untuk para Guru ataupun calon Guru dimanapun berada, seperti kata Bapak Sartono dalam lagu “Hymne Guru”nya, tetaplah menjadi pelita dalam kegelapan, tetaplah menjadi laksana embun penyejuk dalam kehausan, dan jadilah seorang patriot pahlawan bangsa meski tanpa tanda jasa..


Atau, jika tak mau, ingatlah kata-kata Soe Hok Gie berikut, “Guru yang tidak tahan kritik boleh masuk ke keranjang sampah. Guru bukanlah dewa yang selalu benar, dan murid bukanlah kerbau!”

Selamat Hari Guru!

You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe