Aku Pernah Mencintai Bunga

Juni 17, 2014

www.mymodernmet.com

Aku pernah mencintai bunga.

Aku menemukannya hidup dalam sebuah kenangan. Merintih sakit dalam gelapnya masa lalu. Sedang untuk hidup pun dirinya bersusah payah dalam diam. Kala itu, bunga sedang tumbuh menyendiri. Menutup pintu tuhan dari indahnya dunia luar.

Pada masa terdahulu, sang bunga pernah hidup bahagia. Kesehariannya dipenuhi suka-cita. Tak terkecuali, kesenangan setiap saat, meski beberapa kali pula bersedih hati.

Banyak pula kumbang-kumbang yang mendekat padanya. Mendekatkan diri berkat harum mewangi yang dihasilkannya. Bukan hanya itu, bunga memiliki pesona tersendiri yang mampu membius lingkungannya.

Hingga pada suatu ketika, ada seekor kumbang yang telah mengambil penuh manisnya keindahan pada sang bunga, lalu pergi meninggalkannya.

Kutemui sang bunga. Kuberikannya pupuk kesabaran agar ia bisa kembali tumbuh semula. Kurawat secara hati-hati dirinya, dengan harapan keindahan yang akan ditemuinya. Seringkali sang bunga kembali layu, akibat kenangannya yang mengganggu. Tak putus asa, ku berikan bunga nyanyian-nyanyian indah agar ia kembali semangat.

Kala itulah, aku mulai mencintai bunga.

Entahlah, cinta datang begitu saja. Tanpa sebab, tanpa alasan, tanpa pertanda sedikitpun.

Orang bijak pernah berkata, cinta sejati adalah, ketika kau tidak bisa menjawab apa sebabnya kau mencintai hal yang kau cintai.

Sekian lama kutemani sang bunga. Tak lagi sendiri, jauh dari kesunyian. Kuberikan cahaya terang pada dirinya, berusaha agar ia tak tersesat pada jalannya.

Hingga pada akhirnya, sang bunga kembali tumbuh. Harum mewangi, cantik nan indah senyumannya. Cerah kelopaknya, bahkan menyilaukan cahaya mentari yang ada.

Ah, aku semakin mencintai sang bunga.

Namun, aku tak berani mengungkapkannya.

Sang bunga kini kembali ceria. Hidupnya dipenuhi harapan-harapan masa depan yang menyenangkan. Cita-citanya kini, hidup dengan kesenangan masa depan. Ia tak mau lagi ditemui oleh si kumbang terdahulu.

Bunga sudah pandai merawat dirinya sendiri, dan aku semakin mencintai dirinya.

Diluar dugaanku, kala sang bunga tengah berupaya hidup bahagia, kenangan datang menghampirinya. Merasuki pikirannya kembali. Kenangan di kala kumbang pencuri mengambil manisnya keindahan pada sang bunga. Ia datang.

Dan tak ku sangka, waktu merubah segalanya. Sang bunga pun ternyata kembali terjatuh. Sedang aku hanya bisa terdiam melihat tingkahnya.

Aku coba memberitahu kemana arah angin yang baik agar ia bisa kembali tegap berdiri.

Dan ternyata, bunga menemukan arah mata anginnya sendiri. Sang kumbang terdahulu telah membawanya lagi. Sedang bunga, menganggap itulah yang terbaik bagi dirinya (mungkin).

Pepohonan lain seringkali memberitahu pula kepada ia, agar kiranya sang bunga lebih berhati-hati atas alur angin yang ia temui. Apalah daya, sang bunga punya kehidupannya sendiri.

Kini, sang bunga kembali hidup dengan kumbang yang dulu pernah mencuri manisnya keindahan yang ia miliki.

Sedang aku, terdiam dalam lalu-lalang pikiran sendu. Dan bunga, tak pernah tahu apa yang kurasa selalu.

Aku tak menyesali kepergian bunga yang pernah kucintai. Aku tak menyesali tiap upaya yang kuberikan padanya kala aku merawatnya. Aku tak menyesali tiap kata yang telah tertukar kala aku bersama sang bunga. Aku tak menyesali waktu yang mempertemukanku dengan sang bunga. Aku tak menyesali tiap kenangan indah yang telah terangkai sesaat bersama sang bunga. Tak kusesali segalanya.

Kini, aku hanya bisa menitipkan tiap-tiap bait doa yang ada. Untuk sang bunga, serta kehidupannya yang baru.

Berbahagialah kamu, bunga.
Dari aku, yang menitip rindu agar bisa kembali mencintaimu.

You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe