Perempuan Hujan

Mei 10, 2014

http://www.artifacting.com/
Hujan kembali datang hari ini. Sejak siang hari, ia sibuk sekali menjatuhkan dirinya ke bumi. Lebat, dirinya turun dengan sepenuh hati. Tak mengenal lelah, hingga mentari menutup tirainya kembali.

Ya, hujan selalu punya cerita tiap kali kedatangannya. Ia datang meresap ke bumi, lalu mengalir lewat pori-porinya, terus mengikuti alurnya, melewati berbagai rintangan, pergi berakhir di muara, meluas di laut, menguap ke angkasa, dan akhirnya kembali jatuh ke pangkuan bumi.

Hujan juga selalu meninggalkan bekas tiap kali kedatangan hingga kepergiannya, persis seperti dirimu.

Selain hujan, ternyata semua cerita tentangmu turut hadir menemani rintik hujan yang masih berlari-lari di luar jendela itu. Ya, hadir, lalu kemudian membanjiri seluruh pikiran ini.

Dirimu datang melalui pesan sejak pagi, lebih cepat beberapa jam sebelum hujan datang menemani. Berbeda dengan hujan, meski kini dirimu hanya datang sesekali, namun entah kenapa selalu berhasil menenggelamkan hati ini.

Ya, menenggelamkan hati dalam suka-cita pasti.

Seperti hujan, dirimu memang bisa datang dan pergi sesuka hati. Hujan juga seringkali tak peduli apa saja akibat yang ditimbulkan sejak awal kedatangannya nanti. Sebagian orang menganggap keberkahan yang tiada tara, namun tak jarang, sebagian orang yang lain justru menjadikannya sebagai sumber masalah.

Kini, keberadaanmu dan hujan tetap akan selalu dirindukan. Sebab, dirimu telah mendapat tempat di salah satu sisi relung cerita hati ini. Ya, meski pada akhirnya semua itu terlihat seperti fatamorgana saja, memang. Hanya bersifat khayalan, dan sepertinya tidak mungkin bisa untuk dicapai.

Namun begitu, selalu terucap kata 'terima kasih' yang tak terhingga kepadamu, perempuan hujan. Berkat keberadaanmu, kini tertambah lagi cerita lain apabila hujan datang. Berbahagialah dirimu dengan musim semi yang kini telah hadir. Tumbuhlah menjadi kenangan yang indah baginya. Jangan lupa, harumkanlah juga tiap sisi jiwa yang telah membusuk.

Bila kau butuh, bumi masih bisa menjadi tempat berlabuhnya tiap tetesan cerita yang dirimu berikan. Meski kini, ada sedikit batasan yang tak mungkin bisa dilewati alurnya.

Untukmu, perempuan hujan.
Dari rindu yang selalu membuat pesan.

Gorontalo, 10 May 2014

You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe