Tentang Sebuah Negeri Bernama “Indonesia” - Part 1

April 25, 2014

Bendera Indonesia
Pada suatu malam, di dalam sebuah ruang tidur berukuran 3x3 meter, pikiran saya melayang-layang entah kemana. Di dalam ruang berdindingkan papan dan anyaman bambu itu, saya mencoba menerka-nerka tentang apa yang ada di dalam kepala saya.

Beralaskan selembar karpet berwarna hijau, saya berusaha untuk menuntut kepada mata agar bisa segera tidur saja.

Tetapi, tidak bisa rupanya.

Hingga akhirnya, saya termenung, melihat kipas angin yang bergoyang-goyang seperti mau jatuh, sambil diiringi jeritan-jeritan jangkrik dan suara ayam yang berkokok sesekali.

Tak beberapa lama, terbesitlah sesuatu dalam pikiran. Entah datang darimana pikiran itu. Ia datang menghampiri saya secara tiba-tiba. Menambah isi pikiran dalam kepala saya, membuat rasa ingin tahu menjadi besar. Hingga akhirnya, saya penasaran.

Malam itu, pikiran saya terhenti, di sebuah negeri bernama “Indonesia”.

“Ah, ada apa ini, tidak biasanya saya memikirkan hal-hal seperti itu,” berkata saya dalam hati.
Aneh juga memang. Padahal, sebelumnya saya tidak menonton film-film bertemakan “perjuangan” ataupun mendengarkan musik “nasionalis”. Aneh.

Namun, malam itu saya menuntut kepada diri saya untuk segera tidur saja. Mempersiapkan diri, untuk perjalanan pulang kembali ke rumah kakak saya. Ya, saat itu saya sedang berada di sebuah desa di daerah Gorontalo bagian utara. Saya sedang dalam tugas demi menyelesaikan urusan pendidikan saya

Tertidurlah saya kemudian..

***

Beberapa hari kemudian...

Pikiran yang pernah mengganggu isi kepala saya itu kembali datang. hingga akhirnya, saya mencoba menterjemahkan sendiri arti dibalik pikiran saya itu.

“Indonesia,” sebuah nama yang baru saya kenal sekitaran-dua puluh tahun lebih-yang lalu.

Saya mengenal kata Indonesia adalah sebagai sebuah Negara yang sedang saya tinggali, sampai dengan saya menyelesaikan tulisan ini. Sebuah Negara, yang saya tahu: merdeka pertanggal 17 Agustus 1945. Sebuah Negara, yang (katanya) kaya akan hasil alamnya. Sebuah Negara, yang memiliki berbagai macam permasalahan di dalamnya. Sebuah Negara, yang.... ah, silahkan anda isi sendiri saja.

Penasaran, hingga akhirnya mambuat saya mencoba mencari tahu segalanya tentang Indonesia. Dengan bantuan Internet, saya bisa mengobati sedikit rasa penasaran itu.

Berikut, saya ingin bercerita sedikit tentang Indonesia. Hasil dari beberapa sumber yang saya temui di dunia maya.

Tentang Nama “Indonesia”

Ternyata, nama Indonesia itu berasal dari berbagai rangkaian sejarah yang panjang sekali, menurut saya. Namun, puncak berdirinya nama tersebut terjadi di pertengahan abad ke-19.

Indonesia, adalah sebuah negeri yang secara geografis terletak di antara dua benua, yakni: Benua Asia dan Benua Australia (saya yakin, pasti anda sudah tahu tentang ini).

Dalam catatan kuno bangsa Tionghoa, negeri ini dinamakan “Nan-hai” yang punya artian “Kepulauan Laut Selatan”. Kalo di catatan kuno bangsa India, negeri ini dinamain “Dwipantara” yang artinya “Kepulauan Tanah Seberang”. Nama ini berasal dari bahasa Sangsekerta, Dwipa (Pulau) dan  Antara (luar atau seberang). Kalo Bangsa Arab nyebut negeri ini pake nama, “Jaza’ir al-Jawi”, artinya “Kepulauan Jawa”.

Ceritanya, dulu itu bangsa Eropa nganggap kalo Asia itu cuma terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Daerah yang terbentang luas mulai dari Persia sampe Cina, semuanya adalah Hindia. Semenanjung Asia Selatan disebut sama mereka “Hindia Muka”, daratan Asia Tenggara disebut “Hindia Belakang”, nah..negeri kita ini mereka menyebutnya “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, I’archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Malay Archipelago, I’Archipel Malais).

Ketika Belanda datang “berkunjung”, dan menetap hingga (katanya) tiga ratus tahun, mereka menamakan negeri ini dengan sebutan “Nederlandsch-Indie” atau disebut Hindia Belanda. Nama ini digunakan untuk membedakan dengan “British-India”, yaitu daerah India yang kala itu dijajah sama Inggris. Nah, ketika Jepang gentian “berkunjung”, sekitaran tahun 1942-1945, mereka mengganti nama negeri ini jadi, “To-Indo” atau Hindia Timur.

Sampai disitu, saya berpikiran, ternyata negeri tempat dimana kita tinggal sekarang ini pernah punya nama samaran yang banyak, ya.

Itu belum selesai, loh. Perjuangan hingga nama “Indonesia” lahir ternyata masih panjang lagi.

Sekitaran tahun 1820-1887 hiduplah seorang penulis terkenal dari Belanda yang bernama lengkap Eduard Douwes Dekker, namanya. Kala itu, penulis yang juga mempunyai nama pena Multatuli (berasal dari bahasa Latin, yang berarti “Banyak yang aku sudah derita”) ini, mencoba untuk mengusulkan nama lain untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita agar lebih spesifik, yakni: Insulinde, yang artinya “Kepulauan Hindia”. Nama ini juga berasal dari bahasa Latin, yang artinya, pulau.

Tapi ternyata, nama itu tidak popular di telinga orang-orang kala itu.

Tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang dikenal sebagai Dr. setiabudi (cucu dari adik Multatuli), mencoba untuk mempopulerkan (lagi) sebuah nama untuk negeri ini. Ia mencoba untuk mengambil nama yang tidak mengandung unsur kata “India” di dalamnya. Nama itu adalah: Nusantara. Sebuah nama yang diambil dari naskah kuno yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19,  yang kemudian diterjemahkan leh J.L.A. brands dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920. Naskah kuno itu adalah, naskah “Pararaton”, dari jaman Majapahit.

Namun begitu, pengertian Nusantara yang diusulkan oleh Setiabudi berbeda dengan pengertian yang dimaksudkan pada jaman Majapahit. Pada jaman Majapahit, yang pusat kekuasaannya berada di pulau Jawa, Nusantara diartikan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar pulau Jawa (dalam bahasa Sangsekerta: Nusa: Pulau dan Antara: di luar). Nama ini adalah lawan dari Jawadwipa (pulau Jawa). Kata Nusantara sendiri ada di dalam Sumpah Palapa, yang dikumandangkan oleh Gajah Mada, “lamun huwus kalah Nuswantara, isun amukti palapa,” artinya, “jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat”. Oleh Dr. setiabudi, kata “Nusantara” diberi pengertian yang nasionalistis.

Mengambil kata melayu asli antara, kata Nusantara kini memiliki arti yang baru, yaitu: “Nusa (pulau) di antara dua benua dan dua samudra”. Istilah ini ternyata cepat menjadi popular penggunaannya sebagai alternative dari nama Hindia-Belanda. Dan sampai sekarang, kata “Nusantara” masih tetap dipakai untuk menyebutkan wilayah negeri ini yang terbentang dari Sabang sampai dengan Merauke.

Lalu, kata “Indonesia”-nya dimana?

Tenang, nama Indonesia masih dalam proses untuk terlahir kedunia. Kata tersebut masih harus menempuh cerita yang panjang (lagi).

Lanjut ya?

Sumber: google.com

Tahun 1847, di Singapura, terbit sebuah majalah ilmiah tahunan bernama, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang berkebangsaan Skotlandia, yang juga bergelar sarjana hukum lulusan Universitas Edinburgh, Inggris.

Tahun 1849, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), seorang pengacara asal Skotlandia, bergabung dalam tim redaksi majalah JIAEA. Kemudian, di tahun 1850, dalam JIAEA Volume 4, Earl menulis sebuah artikel yang berjudul, “On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations”. Dalam artikelnya, Earl menegaskan bahwa sudah saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas, “a distinctive name”. Sebab, nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua nama pilihan, yakni: Indunesia atau Malayunesia. Seperti yang dalam artikelnya ia menulis, “… the inhabitants of the Indian Archipelago or malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians”. Yang artinya, “... Penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu masing-masing akan menjadi "Orang Indunesia" atau "Orang Malayunesia”.

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia, Kepulauan Melayu, daripada Indunesia atau Kepulauan hindia. Sebab menurutnya, Malayunesia lebih tepat untuk ras melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilangka), dan Maldives (Kepulauan Maladewa).

Sejalan dengan Earl, James Richardson Logan juga menyatakan perlunya nama khas bagi negeri kepulauan ini, sebab, istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Dalam artikelnya yang berjudul “The Ethnology of the Indian Archipelago: Embracing Enquiries into the Continental Relations of the Indo-Pacific Islanders”, Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf “U” digantinya dengan huruf “O”, agar ucapannya lebih baik.

Dalam artikelnya lah, istilah kata “Indonesia” terlahir kedunia secara khusus, Logan menyebutkan, “Mr. Earl suggests the ethnographical term ‘Indunesian”, but rejects it in favour of ‘Malayunesian’. I prefer the purely geographical term ‘Indonesia’, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago.”

Yang diartikan, “Mr Earl menyarankan istilah etnografi ‘Indunesian’, tetapi menolaknya dan mendukung ‘Malayunesian’. Saya lebih suka istilah geografis murni ‘Indonesia’, yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia”.

Nah, sepertinya mulai dari situlah, istilah penamaan “Indonesia” terlahir. Sepertinya jika Logan masih hidup saat ini, dia tidak pernah menyangka, bahwa dikemudian hari, istilah yang ia gunakan lalu itu akan digunakan menjadi nama sebuah bangsa dan Negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di bumi. Dan (katanya), Negara yang kaya akan hasil bumi-nya.

Jadi, begitu toh ceritanya. Eits, belum selesai, loh.

Tahun 1884, guru besar etnologi (ilmu tentang unsur atau masalah kebudayaan suku bangsa dan masyarakat penduduk suatu daerah) di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku hasil penelitiannya ketika mengembara di negeri kepulauan ini, yang berjudul “Indonesien, oder die Inseln des malaysischen Archipels” (bahasa Jerman, yang dapat diartikan, “Indonesia, atau Pulau-pulau dari Kepulauan Malaya”). Jilid I berjudul Maluku, jilid II Timor dan Pulau-Pulau Sekitarnya, jilid III Sumatera dan Daerah Sekitarnya, jilid IV Kalimantan dan Sulawesi, jilid V Jawa dan Penutup.

Berkat buku tersebutlah, istilah “Indonesia” mulai popular di antara sarjana Belanda.


http://blog.uad.ac.id/shafirra12005095/files/2013/10/filosofi-pendidikan-ki-hajar-dewantara.jpg
Sedangkan putra bangsa yang pertama kali menggunakan istilah “Indonesia” adalah: Soewardi Soerjaningrat, atau kita mengenalnya dengan nama: Ki Hajar Dewantara, pendiri “Taman Siswa”.

Ketika dibuang di negeri Belanda tahun 1913, beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau

Indonesia dan Makna Politis

Pada tahun 1920-an, nama “Indonesia” yang awalnya hanya sebagai istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu mulai diambil oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan negeri ini. Sehingga, kata “Indonesia” memiliki makna politis, yakni: identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Akibatnya, pemerintah mulai curiga dan waspada terhadap kata ciptaan yang dibuat oleh Logan itu.

Kemudian, di tahun 1922, atas inisiatif seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, Belanda, organisasi pelajar dan mahasiswa yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging (Asosiasi Hindia), dirubah namanya menjadi ‘Perhimpoenan Indonesia’. Majalah buatan mereka yang bernama Hindia Poetra juga diganti menjadi Indonesia Merdeka.

Mahasiswa yang dimaksud adalah, Mohammad Hatta, yang dikemudian hari menjadi wakil presiden Negara Indonesia pertama.

Dalam tulisannya Bung Hatta berkata, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia-Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air pada masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesiër) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya”

Sementara itu, di tanah air, Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1942. Pada tahun itu juga, Perserikatan Komunis Hindia berganti nama mennjadi Partai Komunis Indonesia, yang lebih kita kenal dengan “PKI”. Tahun 1925, Jong Islamieten Bond, membentuk kepanduan National Indonesische Padvinderij (Natipij).

Itulah organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama Indonesia. Sekarang? Banyak lah.

Akhirnya, nama Indonesia mulai dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928, yang kini lebih kita kenal dengan sebutan Hari Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad, Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardji Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch- Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.

Namun, ketika Jepang mulai “berkunjung” pertanggal 8 Maret 1942,  Hindia-Belanda akhirnya lenyap.

Kata Indunesia, Indonesien, atau insulinde semua memiliki arti Kepulauan India. Kata ini sebenarnya menunjukkan identitas pribumi yang hidup di bagian barat wilayah Hindia-Belanda. Sedangkan yang hidup di wilayah timur-Flores, Timor, Maluku, dan Papua-sebenarnya adalah orang-orang Melanesians (Bahasa Latin, Mela = hitam, Melanesians = kepulauan orang-orang hitam).

Jadi, kata “Indonesia” yang sampai saat ini kita gunakan sebenarnya memiliki arti yang tak lain adalah: Kepulauan India.

Tak hanya itu, ada juga sebuah kisah yang juga menceritakan tentang sebuah nama “Indonesia”. Adalah Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi, pria kelahiran Tondano, Sulawesi Utara. Sam Ratulangi adalah tokoh pahlawan nasional dari tanah Minahasa, Manado.

Singkat cerita, Sam Ratulangi pindah ke daerah Bandung bersama seorang temannya yang bernama Tumbelaka. Di Bandung, ia mendirikan sebuah Maskapai Asuransi Indonesia. Dari tahun 1922-1924, Ratulangi memimpin dan mengendalikan maskapai itu.


http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/5/53/Sam_Ratulangi.jpg
Suatu ketika, Soekarno (yang dikemudian hari menjadi presiden pertama Indonesia) berjalan-jalan di kota Bandung, ia melihat papan nama bertuliskan “Algemene Levensverzekering Maatschappij Indonesia”.

Kemudian, Soekarno bertanya kepada orang Bandung perihal kata Indonesia itu, “Apa ini Levensverkering Maatschappik Indonesia?”.

“Oh, itu adalah perseroan tanggung jiwa yang dipimpin oleh seorang Doktor dari Minahasa, namanya: Ratulangie”, jawab lawan bicara Soekarno kala itu.

Itulah mungkin kali pertamanya Soekarno bertemu  dan mulai terinspirasi dengan “Indonesia”. Di Bandung, tempatnya.

Dan, hingga akhirnya, tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta, berhasil memproklamirkan sebuah Negara. Yang kita kenal hingga kini, bernama, "Indonesia".

Indonesia Hingga Kini

Sekarang, sudah tahu kan gimana ceritanya? Menurutmu, apakah negeri ini memang tepat dinamakan “Kepulauan India”? padahal, negeri ini bukanlah bagian dari India.

Andai kata negeri ini sepakat meninggalkan nama ciptaan bangsa Eropa, maka negeri Indonesia bukanlah negara pertama yang mengganti nama peninggalan masa penjajahan.

Banyak negara setelah merdeka mengganti nama yang “diciptakan” atau diberikan oleh penjajahnya, seperti Ceylon menjadi Sri Lanka, Burma menjadi Myanmar, Indo-Cina menjadi Vietnam, Rhodesia menjadi Zimbabwe, Gold Coast menjadi Ghana, South-West Afrika menjadi Namibia, dll.

Selain Indonesia, yang masih menggunakan nama yang “diciptakan” oleh orang-orang Inggris dan kemudian dipopulerkan oleh orang Jerman, negara yang masih tetap menggunakan nama peninggalan penjajahan adalah Philipina (Filipina). Ketika orang-orang Spanyol menguasai wilayah tersebut, sebagai persembahan kepada raja Spanyol, Philip, jajahan itu diberi nama Philipina.

Terpikirkan untuk mengganti nama menjadi “Nusantara” saja? hehe

Ah, ternyata panjang juga saya bercerita. Ini baru cerita tentang nama saja, loh. Masih banyak cerita lain yang mungkin menarik untuk diceritakan kembali.

Mungkin di lain waktu saya akan bercerita lagi “Tentang Sebuah Negeri Bernama Indonesia” ini. Hari ini saya harus istirahat dulu. Dan, kalo ada kesempatan saya akan bercerita lagi.

Bye~

You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe