Pandai Besi; Mendaur lalu Membaur

Agustus 06, 2013


Pandai Besi, akhirnya sukses membuat mini konser launching album terbarunya (1/8/13).

Pandai Besi, sebuah Band yang awalnya sangat asing terdengar ditelinga saya. Nama ini pertama kali saya lihat sering disebutkan di Timelinenya Efek Rumah Kaca. Dan setelah beberapa hari belakangan, akhirnya saya tahu siapa saja orang-orang yang ada dibalik nama Pandai Besi.


Malam itu gerimis masih menyelimuti Kota Jakarta. Saya diracuni oleh seorang teman supaya mau ikut pergi bersama dia. Awalnya saya masih mikir-mikir, tapi karena dipaksa, yaa..sudahlah...


Setelah sedikit berputar-putar karena kehilangan arah di daerah Menteng, akhirnya kami berdua sampai di sebuah tempat. GoetheHaus, itulah nama tempatnya. Dari luar, terlihat tempat parkir yang sudah lumayan penuh sesak dan orang-orang terlihat seperti mengantri menunggu sesuatu.


Ah, ternyata ini adalah tempat dimana Pandai Besi akan mengadakan konser. Teman saya akhirnya memberitahukan.


Acara ini ternyata merupakan penutup dari serangkaian acara yang telah mereka buat sebelumnya. Bulan Februari 2013 lalu, Pandai Besi memulai sebuah proyek bernama  crowdfounding. Mereka membuka donasi untuk merekam album pertamanya di studio legendaris bernama 'Lokananta.' Dari hasil rekaman itu, terlahirlah sebuah album berjudul Daur Baur. Album ini berisikan 9 lagu Efek Rumah Kaca dengan aransemen baru.


Agar bisa masuk mengikuti acara ini, pengunjung dibagi menjadi dua bagian. Yang melalui jalur undangan, adalah bagi mereka yang telah ikut mendonasi sebelumnya dan diundang langsung oleh pihak Manajement. Sedangkan untuk umum, ada syarat unik agar kita bisa ikut masuk. Setiap pengunjung yang tidak melalui jalur undangan, diharuskan membawa sebuah buku bacaan anak-anak. Buku ini nantinya akan ditukar oleh tiket masuk, dan setelah terkumpul akan di sumbangkan melalui Indonesia Menyala.


Di lobby GoetheHaus, kita bisa menemukan beberapa booth dari para peserta crowdfunding. Mulai dari yang menjual Kaos hingga Keramik! Ada juga pameran foto yang memamerkan foto-fotonya Pandai Besi.


Pukul 8 malam, saya dan para pengunjung lainnya mulai memasuki sebuah ruangan seperti ruangan opera. Bagi pengunjung yang melalui undangan, bisa mendapatkan tempat duduk paling depan. Sedangkan yang lain, ada yang yang dapat ada yang tidak, tergantung seberapa cepat kita saat mendaftar sebelumnya.


Kursi-kursi sudah terisi dan tangga juga penuh, saya beruntung bisa dapat kursi meski di bagian atas.


Konser sangat menarik bagi saya, mulai dari awal masuk hingga pertunjukan dimulai. Diawal pertunjukan, layar dipanggung menampilkan slide foto dari para crowdfounder. 


Setelah selasai, tiba-tiba seisi ruangan meredup. Tersisa cahaya lampu yang menyoroti seseorang yang keluar dari belakang panggung. Teatrikal! Ralmond Farly, bassist Dear Nancy bertindak sebagai aktor dengan kostum dan benda yang disesuaikan dengan tiap lagu yang dibawakan. Ia memulainya dengan menyetel piringan hitam Daur, Baur. Lalu terdengarlah detik-detik terakhir “Menjadi Indonesia” yang dilanjutkan dengan intro drum pada “Debu-Debu Berterbangan”.


Akbar mulai memainkan drum, disusul dengan suara-suara anggota Pandai Besi lainnya: vokalis-gitaris Cholil, bassist Poppie, gitaris Hans, keyboardist Asra, pemain terompet Panji Mardika serta vokalis latar Irma "Mbaer", Nastasha Abigail dan Monica Hapsari. Semua personil tampil dengan balutan kostum yang rapih. Kemeja, jas, hingga kebaya mereka gunakan.


Tak mau ketinggalan, Angan Senja putra pasangan Cholil dan Mbaer, ikut beraksi di atas panggung dalam balutan jas dan topi pet. Berjalan bersama sang ibu, dan setelah lagu kedua selesai ia maju kedepan bersama sang ayah, dengan lincahnya ia memainkan kecrekan dan sesekali bernyanyi sambil menirukan gaya ayahnya memainkan gitar.

Foto: Aldo
Di sesi pertama konser ini, Pandai Besi membawakan lagu Debu-debu Beterbangan, dilanjutkan dengan Jalang, Hujan jangan Marah, dan Melankolia.

Setelah sesi pertama selesai, acara rehat sejenak. Duo MC kocak Anggaanggok dan Saleh "Ale" gitaris grup White Shoes and The Couples Company, mulai mengambil alih panggung malam itu. Seisi ruangan menjadi penuh dengan tawa akibat tingkah konyol dan candaan mereka. Tak lupa mereka juga menjelaskan asal0usul serta Family-Tree dari Pandai Besi.


Yang saya tangkap berdasarkan penjelasan MC, ternyata semua personl Pandai Besi sudah memiliki Band sebelumnya. Tetapi mereka akhirnya membuat Band baru dengan Cholil dan Akbar (personil Efek Rumah Kaca) sebagai promotornya.

Yang mengharukan adalah, ketika Ale meyebutkan kehadiran Adrian Yunan Faisal ditengah-tengah penonton, bassis Efek Rumah Kaca yang sudah lama vakum karena penyakit mata yang dideritanya.

Terjadilah wawancara singkat bersama Andrian. "Seru ya, gue ngerasa gue ada di situ sebenarnya. Ekspektasinya bersenang-senang, sesenang mungkin," ujar Andran begitu ditanya komentar tentang acara malam itu.

Foto: tukankpotrek.wordpress.com
Andrian juga menambahkan bahwa Efek Rumah Kaca sudah lama ingin mengadakan konser tunggal tapi tak pernah terwujud. Dan pada akhirnya ia hanya bisa menjadi penonton ketika semuanya terwujud, meski di bawah nama Pandai Besi.

Walaupun kondisinya memprihatinkan, Adrian tetap aktif menciptakan lagu dan mengisi bas untuk album ketiga Efek Rumah Kaca yang akan datang. “Kita bersenang-senang,” katanya diakhir wawancara.

Sebelum sesi kedua dimulai, ada penyerahan bingkisan kepada seluruh crowdfounder yang diwakili oleh Ananda Omesh dan Mbak Dewi.

Foto : Aldo
Setelah itu, Pandai Besi pun kembali melanjutkan sesi kedua dengan lagu Desember, Laki-Laki Pemalu, Jangan Bakar Buku, Di Udara, dan ditutup dengan meriah oleh lagu Menjadi Indonesia.

Sangat seru. Meski berkonsep sederhana, tapi konser itu pada akhirnya bisa menghibur hampir 300 penonton yang hadir saat itu.

Konser itu juga ditutup dengan penampilan Ralmond, yang berakting sambil membawa sekuntum bunga Mawar Merah mini beserta potnya. Ia meletakkan di atas piringan hitam yang sedang berputar di turntable. Lalu ia pergi bersamaan dengan orang-orang yang mulai riuh dengan kegembiraan.


Sekarang, tinggallah kita menunggu kelanjutan dari karya-karya Pandai Besi. Dan tak lupa karya Efek Rumah Kaca juga tentunya..



Foto: ShutterBeater.com
Berikut adalah video 'Hujan Jangan Marah' dan lagu 'Menjadi Indonesia.'


Sumber :  Provoke Magazine


You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe