Analogi antara 'Aku' dengan 'Diriku'

Agustus 08, 2013

Suatu ketika, sekembalinya Aku dari lautan Kerisauanku, Aku berjalan keluar dari tempat dimana kusandarkan kapal Gundahku di sebuah dermaga kecil dekat teluk Kehampaan. Dengan berbekal sebuah Harapan Kosong dalam mataku, Aku terus melangkahkan kaki-kaki Lemahku menyusuri ladang Kesunyian, kutelusuri setiap jejak langkah Lemahku, kulewati Ketangguhan air dalam gemericik sungai, kudaki sedikit demi sedikit bukit Rintangan dalam perjalananku. Aku sendiri pun tidak tahu kemana akan kulangkahkan kaki-kaki Lemahku ini, Aku hanya berharap kepada Angin, yang sebelumnya kutemui dia diseperjalananku ini.

Sang Angin mencoba membawa Aku pergi bersamanya, oleh karena jubah Kesendirianku inilah akhirnya ku memutuskan untuk pergi bersama dirinya. Ia menemaniku sepanjang perjalanan, dan menyambungkan Aku saat berkomunikasi dalam hal apapun. Kupikir ia adalah hal yang baik untukku, ia mau mendengarkan semua ocehan-ocehan dari dalam mulutku yang mulai sering menelan pil Kepahitan. Ia juga mampu dalam mengambil dan memberikanku saran terhadap pahitnya Kebatinan.

"Ia adalah yang nantinya, dan akan kujadikan sahabatku kelak," pikirku.

Tapi, setelah Aku berjalan jauh bersamanya, Sang Angin akhirnya pergi meninggalkanku sendiri lagi diperjalanan. Dengan berat hati ku ucapkan kepadanya, "Terima kasih atas semuanya wahai Angin, ku harap nanti Aku akan berjumpa kembali bersamamu." Sang Anginpun pergi meninggalkanku, tak lupa ia memberikan senyuman lembutnya yang menyegarkan Aku.

Aku kembali berjalan menyusuri langkah Lemahku, kali ini Aku sendiri, dan Aku tidak tahu kepada siapa lagi Aku akan berbicara sepanjang perjalanan nanti. Tetapi, setelah beberapa saat ku berjalan, ada yang memanggil Aku.

"Hei! Apakah aku bisa menemanimu saat ini?" sebuah hal berkata padaku.
"Hai Mentari, ternyata dirimu. Maaf...aku tidak memperhatikanmu sepanjang perjalananku tadi." Berkataku kepada ia.
"Iya..tidak mengapa, aku sudah biasa kok terlupakan oleh siapa saja...hhehehehe." Tertawa dirinya kepadaku. Akupun sempat merasa heran, tetapi Aku cepat-cepat menghilangkan keheranannku, sebab Aku hanya melihat senyum keikhlasan padanya.

Dan kali ini, Aku berjalan kembali bersama Sang Mentari. Tadinya sering kupikirkan ia adalah tipikal pemarah, tapi dibalik itu semua, ternyata berbanding terbalik dengan semua pikiranku. Ia baik luar biasa.

Sang Mentari terlihat begitu berapi-api ketika menceritakan kisahnya, dalam pikirku ia terlihat tidak pernah peduli terhadap apa yang lain bicarakan tentangnya. Walaupun begitu, tapi Aku senang saat bersamanya, ia baik dan sangat perhatian. Banyak hal yang kami bicarakan sepanjang perjalananku. Tapi sesaat setelah itu, ia pun meminta maaf kepadaku, ternyata ia masih ada urusan yang harus ia selesaikan saat itu. Dan ia akhirnya memohon pamit kepadaku.

"Terima kasih atas semuanya wahai Mentari, ku harap nanti Aku akan berjumpa kembali bersamamu." Berkata Aku sebelum ia pergi saat itu.
"Ya sama-sama...berhati-hatilah dijalan, sebab akan banyak persimpangan yang akan kau lewati didepan. Tapi tenang...aku akan tetap memperhatikanmu sepanjang perjalananmu." Sang Mentari menitipkan pesannya kepadaku sebelum dia pergi.

Aku kembali melanjutkan perjalananku. Dan tidak beberapa lama setelah Aku melangkahkan kaki lemahku sendirian, perkataan Sang Mentaripun benar adanya. Kini ada persimpangan yang harus kulewati jika memang Aku ingin melanjutkan kembali perjalananku. Sempat terpikir olehku untuk kembali ke jalan sebelumnya dan mencari jalan lain, tapi, kemudian Aku berpikir lagi, sepertinya akan menjadi percuma jika Aku kembali, sebab pasti Aku akan mendapatkan kembali persimpangan-persimpangan lainnya seperti yang Sang Mentari katakan kepadaku.

Akhirnya aku kembali memikirkan, "Akan kemana kulangkahkan kaki-kaki Lemahku ini selanjutnya?" Sekian lama kuberpikir, terdengar sebuah suara yang cukup mengejutkanku saat itu.

"Hai... Kau yang ada disana! Sampai kapan kau akan berpikir untuk menentukan langkah kecil mu itu? Apakah kau akan berdiam diri terus? Mematung tanpa guna sedangkan dunia disekelilingmu terus bergerak tanpa henti?"
Aku sempat mencari sumber suara itu, tak lama ku mencari ternyata kudapatkan sumber dari suara itu. Hampir tak terlihat, ternyata ia adalah Sebuah Batu Loncatan yang sedang duduk disalah satu persimpangan yang kutemui kala itu.

"Wahai Sang Batu Loncatan, apakah yang sedang dirimu lakukan ditempat ini?" Tanyaku.
"Aku sebenarnya sudah menunggumu daritadi."
"Hah? Ada apakah gerangan sehingga membuatmu menungguku ditempat seperti ini?"
"Aku sebenarnya sudah menduga-duga sebelumnya, pasti akan kutemukan dirimu ditempat-tempat seperti ini. Dan kau pasti akan kebingungan dalam mencari langkah selanjutmu"
"Kenapa kau bisa tahu wahai Sang Batu Loncatan?"
"Ya...sebab aku akan selalu ada untuk dirimu, untuk orang-orang disekelilingmu, yang sedang membutuhkan hal selanjutnya dalam melangkahkan kaki-kaki mereka."
"Kenapa engkau begitu baik Wahai Sang Batu Loncatan?"
"Maaf...tapi kau jangan salah mengerti, 'aku bisa saja menjadi sangat baik ketika kau baik, tapi aku juga bisa saja menjadi jauh lebih jahat ketika kau jahat.' Tapi terkadang, aku selalu menjadi dalam hal apapun diantara itu."
"Maafkan aku wahai Sang Batu Loncatan."
"Sudah...lupakanlah...dan segera lanjutkanlah langkahmu itu."
"Baiklah...Terima kasih atas semuanya wahai Batu Loncatan, ku harap nanti Aku akan berjumpa kembali bersamamu." 

Akupun pergi meninggalkan Sang Batu Loncatan, dan melanjutkan kembali langkah-langkah lemahku ini.

Sekian jauh berjalan, menyusuri kelemahan langkah-langkahku ini. Tak kutemui siapapun sepanjang perjalanan. Aku hanya sendiri, ya… sendiri. Tak seorangpun menemani, hingga akhirnya Aku sampai disebuah padang ilalang Kebebasan.

Aku melihat dari kejauhan, ada seseorang disana yang terlihat dalam Harapan Kosong mataku. Dan ternyata ia adalah Diriku, yang sedang duduk termenung dibawah pohon Perlindungan.

Akupun menghampiri, serta duduk disamping dirinya seraya berkata, “Hai Diriku, apa yang sedang kau lakukan ditempat seperti ini?”
“Entahlah…aku hanya terdiam ditempat ini, berharap perlindungan yang diberikan oleh sebuah pohon yang terlihat hampir tumbang tetapi masih memiliki semangat untuk tumbuh kembali,” Dirikupun menjawab Lirih.
“Apakah kau bosan wahai Diriku?” Aku mulai bertanya-tanya kepadanya.
“Ya…sepertinya begitu.”
“Apakah kau ingin berubah wahai Diriku?”
“Jelas…aku sedang memikirkan perubahan itu.”
“Kepersimpangan mana yang akan kau pilih nanti wahai Diriku? Kesebelah kirikah, atau kanankah?”
“Maaf..sepertinya aku belum mengetahui hal itu. Dirikupun terkadang bingung harus memikirkan hal semacam itu. Diriku sama sepertimu wahai Aku, Dirikupun mungkin akan pergi bersamamu nantinya.”
“Lantas wahai Diriku, apakah kau sudah bertemu dengan Dirinya?”
“Ya, aku sempat bertemu dengan Dirinya beberapa waktu yang lalu.”
“Lalu apa yang kalian utarakan seketika bertemu wahai Diriku?”
“Banyak yang kami bicarakan waktu lalu, Diriku dan Dirinya mencoba saling mengasihi, mencoba saling mengerti, mencoba saling melengkapi, dan banyak diantara kami saling bertukar janji.”
“Apakah hubungan seperti itu sudah lama kalian lakukan?”
“Ya…lama sekali, dan Diriku sangat menyukai hal itu.”
“Lantas apakah Dirinya tahu bahwa kau wahai Diriku menginginkan sebuah perubahan?”
“Entahlah wahai Aku, terkadang Diriku bingung dengan Dirinya. Masih terlihat sebuah selimut keraguan yang sering melingkup diantaranya, Diriku mungkin tidak melihat itu secara langsung, tapi Diriku bisa peka terhadap rasa seperti itu.”
“Apakah Dirinya tidak pernah memikirkan perubahan sebagaimana engkau wahai Diriku memikirkannya?”
“Itulah yang menjadi tanda tanya besar bagiku wahai Aku, Dirikupun sendiri kurang mengetahui akan hal itu.”
“Apakah kau tidak mencoba untuk bertanya kepadanya Dirinya langsung wahai Diriku?”
“Sering ku bertanya-tanya akan hal itu kepada Dirinya, tapi seperti yang kukatakan sebelumnya, Dirikupun sering melihat selimut keraguan itu masih menempel disekelilingnya.”
“Apakah kau tidak mencoba untuk mengeluarkan selimut keraguan itu wahai Diriku?”
“Diriku sedang berusaha wahai Aku, tapi Diriku takut akan menyakiti Dirinya.”
“Seberapa tulus kau mengasihi Dirinya wahai Diriku?”
“Seribu kata tulus mungkin sangat kurang bila kau tanyakan jumlahnya wahai Aku, Diriku tidak pernah memperhitungkan hal-hal seperti itu. Diriku hanya memberikan sepenuhnya tanpa harus menghitung-hitungnya kembali. Kau tahu wahai Aku? Diriku sangat tulus mencintai Dirinya. Diriku hanya takut bilamana Dirinya pergi meninggalkan Diriku. Diriku bukan maksud untuk Arogan, Mengekang, atau apapun hal buruk itu terjadi pada Dirinya. Yang kuharapkan adalah…hanya sekedar cinta tulus yang mengalir dari mata air dalam Hatinya, sehingga bisa mengalir hingga bermuara dalam hati Diriku. Diriku tahu, Diriku mungkin pernah melakukan kesalahan yang cukup fatal menurut Dirinya, tapi Diriku sadar, Diriku mencoba untuk membangun kembali dan bangkit kembali dari kesalahan-kesalahan terdahulu. Diriku mencoba untuk menutupi semua luka yang ada, mencoba menyehatkan kembali hati yang sakit. Mencoba membangun kembali kepercayaan yang mungkin rubuh. Pokoknya semua akan Diriku lakukan demi memperbaiki hal itu. Tapi, ada satu hal lain yang mungkin Diriku pikir, tentang sebab dari selimut keraguan itu masih tetap menyelimutinya.”
“Apakah itu wahai Diriku?”
“Mungkin saja selimut itu pemberian dari seseorang diluar sana selain Diriku wahai Aku. Mungkin saja dalam selimut itu menyimpan banyak rajutan kenangan yang terkandung didalamnya ketika Dirinya bersama seseorang itu wahai Aku. Mungkin saja… Tapi Diriku sadar wahai Aku, Diriku tidak harus berpikiran seperti itu. Diriku mungkin harus berharap cerita lain agar semua kemungkinan itu tidaklah benar adanya wahai Aku.”
“Lantas apakah yang akan kau lakukan sekarang wahai Diriku?”
“Akan kulangkahkan kaki Diriku menuju perubahan, tetapi mungkin Diriku akan menemui sang Batu Loncatan terlebih dahulu, Diriku harap ia tidak menceburkan Diriku dalam jurang hitam kegelapan, Diriku sangat berharap kebaikan yang kudapati dalam langkah perubahanku nanti. Seperti pohon Perlindungan ini, yang selalu berharap kebaikan bisa menguatkan akar-akarnya lagi sehingga batangnya bisa kokoh ketika melawan kerasnya Badai yang menerpanya.”
“Bagaimana dengan Dirinya?”
“Yaa..Diriku hanya bisa berharap, semoga Dirinya bisa sama seperti Diriku. Melakukan perubahan kebaikan. Dan kemudian Diriku sangat berharap, Dirinya bisa mempercayai keberadaanku, dan membuka lebar-lebar pintu mata air cinta tulusnya itu. Sebab Diriku sangat tulus mencintai Dirinya.”
“Baiklah wahai Diriku, Aku minta maaf jika Aku terlalu banyak bertanya-tanya tentang kisahmu itu. Aku tidak bermaksud apa-apa wahai Diriku. Mohon maaf jika Aku ada salah.”
“Iya, tidak apa wahai Aku, Diriku justru senang bisa berbagi kisah ini bersamamu, sebelumnya entah siapa yang  mau menerima cerita-cerita konyol Diriku seperti ini.”
“Aku juga mempunyai harapan untukmu wahai Diriku. ‘Aku berharap senantiasa bisa menyenangkan Diriku, sebagaimana Diriku menyenangkan Aku.’”
“Sama-sama, Dirikupun sangat senang bisa bertemu denganmu wahai Aku ditempat seperti ini. Baiklah wahai Aku, Diriku ingin pergi sebentar berjalan keluar sana, mencoba menghilangkan penat dalam batin dan pikiranku. Diriku mungkin akan mencari sang Mentari untuk memberikan secercah sinar harapannya kepada hatiku yang sedang gundah gulana ini. Apakah kau juga ingin pergi?”
“Hhmm…terima kasih wahai Diriku karena engkau telah menawarkan hal itu. Tapi sepertinya Aku akan tetap disini dulu, sambil memikirkan kembali kemana langkah lemahku ini akan berlanjut. Titipkan saja salamku kepada sang Mentari, yah.”
“Baiklah…Diriku pergi dulu wahai Aku. Mohon maaf Diriku tidak bisa menemanimu saat ini.”
“Terima kasih atas semuanya wahai Diriku, ku harap nanti Aku akan berjumpa kembali bersamamu." 

Dirikupun pergi meninggalkan Aku. Ia pergi demi mencari perubahan itu. Cukup lama kupandangi kepergiannya, bermodalkan harapan besar ia berusaha menemukan perubahan itu. Langkahnya terlihat tulus hingga pasir yang diinjaknyapun tidak berbekas. Tapi kuyakin ia bukanlah manusia setengah dewa, ia juga manusia biasa sepertiku, yang tak pernah luput dari rasa kebersalahan.

Lantas apakah yang akan kulakukan saat ini? Apakah aku hanya akan diam membisu, hingga terbunuh sepi? “Baiklah…Akupun akan melanjutkan kembali sisa-sisa perjalananku ini.” Pikirku.

Akupun kembali melanjutkan kepergianku, Aku mungkin akan pergi meninggalkan padang ilalang kebebasan ini. Aku terus berjalan, berjalan, dan terkadang sedikit berlari mempercepat langkahku. Entah kemana Sang Angin akan membawaku pergi. Entah apakah Sang Mentari akan tetap memperhatikanku lagi. Entah apakah Sang Batu Loncatan bisa menyelamatkanku dari jurang kegelapan itu. Aku hanya akan terus berjalan menyusuri langkah lemahku bersama mereka, seiring Sang Waktu terus berputar. Bersama Sang Bintang dan Bulan yang senantiasa menghiasi malam-malam gelapku. Bersama Sang Pelangi yang akan ada menghiburku dikala Badai datang menghadangku. Dan bersama banyak hal kebaikan yang akan kujemput seperjalananku nanti. Akupun mungkin harus menerima kenyataan, bilamana ternyata Sang Maut menjemputku ditengah jalan nanti, Aku sepertinya harus menyiapkan perbekalan itu dari sekarang. Menunggu datangnya Sang Maut untuk membawaku kedalam alam kebaikan yang kekal nan abadi sesuai harapanku ini.

Dan sambil menunggu itu semua, aku akan tetap melangkahkan kaki lemahku menuju kebahagiaan yang menunggu Aku diujung sana…

Gorontalo
November 2012

You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe