Rintik Hujan dan Senandung Pelangi

Juli 25, 2013

Rintik hujan kembali turun dari langit, membasahi sebagian dari luasnya sang Bumi. Ini merupakan titik akhir dari mendung yang telah lama menutupi keraguan atas dirinya. Tanpa keraguan, sang hujan pun membasahi segala sesuatunya yang tersentuh oleh dirinya. Mulai dari pepohonan, bebatuan, hingga makhluk-makhluk yang kurang beruntung dalam melindungi dirinya.

Wangi rerumputan yang basah, bersama debu-debu diatas aspal hitam, harus terpaksa ikut menikmati sang hujan. Semuanya membaur bersama udara yang berada disekelilingku dan memaksa masuk kedalam rongga pernafasanku. Ini kesekian kalinya hujan membasahi bumi ini dalam beberapa minggu terakhir. Mentari sekalipun tak pernah menyesal perannya dalam menyinari dunia ini digantikan sesaat oleh datangnya sang hujan. Tak pula berdusta dalam keraguannya.

Hari ini waktu seperti berjalan merangkak, terasa lama, dan seperti enggan untuk berlalu. Entahlah…apakah ini hanya sugesti dalam pikiranku yang terlalu berlebihan, atau memang dia enggan berlalu. Ya…terkadang kita memang merasakan waktu yang berjalan begitu lambat, ketika kita terpaksa mengikuti hal-hal yang tidak kita senangi, misalnya. Tapi kali ini berbeda, sebenarnya tidak ada hal yang sedang tidak kusenangi hari ini, diriku pun bingung kenapa hal ini bisa terjadi. Segala sesuatunya berjalan seperti melambat, mendayu-dayu, seakan mataku yang lemah ini bisa menangkap semua pergerakan rintik hujan yang turun dibalik jendela itu. Heran…

Entah sudah berapa lama aku bertingkah seperti itu, menganggap semuanya berlaku lambat. Padahal, secara tak sadar aku melakukan banyak hal dalam waktu yang terasa singkat itu, memperhatikan rintik hujan, awan kelam yang menyelimuti langit, kilatan petir yang sesekali terjadi, hingga memperhatikan burung-burung kecil yang terlihat seperti sedang berlari berusaha mencari tempat teduh demi melindungi dirinya dari kebasahan. Dan aku bisa menangkap satu hal yang bisa kupelajari saat itu, ‘Terkadang, banyak hal yang sebenarnya bisa kita lakukan dalam waktu yang terkesan sedikit kita rasakan,’ ya…banyak hal, tapi tidak kita sadari.

Dan kembali tak kusadari, ketika redupnya cahaya mentari yang sedari tadi berusaha menyinari sebagian bumi ini, ternyata telah digantikan peranannya oleh cahaya bulan yang berusaha menembus pekatnya awan hitam diatas sana. Sinar-sinar rembulan sepertinya hanya sedikit yang berhasil menelusuk mencapai bumi. Diatas sana, langit terlihat seperti lapisan kain hitam tanpa noda sedikitpun, tak ada bintang, tak ada yang menghiasi. Kelam..

Hari ini, aku memang merasa seperti berjalan keluar dari dalam diriku sendiri, pikiranku melayang entah kemana. Awalnya memang aku mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi, tapi…ketika semakin berusaha aku mencoba mengetahuinya, semakin aku tidak mengerti apa penyebabnya. Mungkin inilah yang dinamakan kekosongan dalam diri. Layaknya sebuah ruang kosong, tak berisi apapun, tak ada apapun, tak menyadari apapun. Kosong…seperti ruangan yang sudah lama ditinggalkan oleh pemilik sebelumnya.

Hujan di luar sana masih senantiasa membasahi bumi, tak kenal lelah, tak peduli akan dirinya. Dalam hal ini aku belajar satu hal lagi, ‘Dalam bertindak, sepertinya kita patut mencontoh sang hujan, tidak setengah-setengah, tapi menyeluruh dan jauh dari keraguan.’

Hujan tak kunjung berhenti, malam yang semakin meniti hari, dan diriku yang masih sunyi. Hingga tanpa sadar aku terlelap dalam balutan dinginnya udara malam saat ini.

Dalam lelap, aku melihat sang bulan bersanding mesra bersama bintang, melihat keduanya seperti memperlihatkan sebuah formasi keindahan yang tak ternilai harganya. Sinar rembulan seperti merefleksikan bahwa dirinya memiliki sebuah keahlian dalam bersolek memperlihatkan keindahannya pada khalayak umum.

Cahayanya membentuk sebuah lingkaran sempurna yang mengelilingi intinya, dan seakan-akan sang awan yang berada disekitarnya bergerak menjauh agar tidak menghalangi bias-bias cahayanya itu. Sang bintangpun tak ingin ketinggalan, meski perannya terlihat kecil, tapi ia senantiasa menemani sang bulan dalam kondisi apapun, dan selalu berada dekat disampingnya. Dan sang bulanpun tidak pernah keberatan dengan hal itu, ia bersedia berbagi keindahan sinarnya dan memadukannya bersama sinar sang bintang. Dari mimpi ini aku melihat dan bisa menangkap pelajaran didalamnya, bahwa, ‘Ada baiknya kita tidak mengsia-siakan sekecil apapun peran siapa saja yang berada didekat kita, termasuk pasangan kita yang senantiasa menemani kita dalam kondisi apapun itu. Kita tidak akan pernah tahu, bahwa ketika kita sudah tidak lagi mengsia-siakan peranan yang kecil sekalipun, kita bisa terlihat menawan, indah, dan mempesona didepan khalayak ramai. Apalagi ketika mereka sudah mencocokkan kita sebagai pasangan yang pas.’

Pagi diganti siang, siang diganti sore, sore diganti malam, dan malam akan kembali digantikan oleh sang pagi. Begitupun saat ini, malam yang gelap, berganti secara perlahan menuju pagi. Aku masih terlelap dalam tidurku, masih merasa nyaman dengan semua bunga tidur yang menemaniku saat itu, aku menikmati segala kehadirannya, berharap mungkin dari sekian bunga tidur yang kujumpai inilah aku bisa mengisi kekosongan dalam diriku saat ini. Aku mencoba memetik salah satu diantaranya, untuk kubawa agar bisa kutempatkan dalam sebuah vas bunga kaca yang bertuliskan semua keinginanku.

Aku terbangun ketika bunga tidurku mulai terlihat layu, aku berusaha menempatkan kesadaranku, mengucapkan syukur atar karunia yang telah diberikan-Nya kepadaku sampai dengan aku terbangun pagi ini. Kudengarkan suara-suara disekitarku, dan kurasakan, ternyata diluar sana sang hujan masih turun membasahi bumi. Tapi kali ini ia turun dengan lembut, berusaha tak membuat gaduh hingga memecahkan harmoni suasana hari itu.

Dalam beberapa kali kesempatan aku berusaha menangkap irama-irama yang diberikan oleh sang hujan, tiap-tiap melodinya mengalun lembut laksana sutra yang bernilai tinggi. Dalam keheninganku ini aku menyadari diriku, begitu lemahnya diriku, banyaknya kekurangan dalam diriku, dan berbagai macam kesalahan yang telah kuperbuat selama ini. Mungkin inilah salah satu penyebab pemilik ruang kosong yang ada di dalam diriku ini pergi meninggalkannya. Ya, saat ini kusadari aku membutuhkan seseorang yang mau menempati ruang kosong tersebut, melengkapi tiap-tiap sudutnya, mengganti hal-hal yang sudah usang didalamnya. Dalam hati kuberpikir, mungkin aku juga memerlukan hujan demi membasahi ruang kosong tersebut yang sudah lama mengering.

Ya, semua memang masih dalam pikiran-pikiranku, dan belum sempat untuk merealisasikannya.

Dalam usahaku memikirkan hal-hal tersebut, kusadari hujan diluar sana telah mereda, kini hanya tersisa butiran-butirannya yang hadir disetiap ujung tunas baru yang mulai bermunculan. Akupun keluar mencoba melihat disekitar, semua terlihat basah, burung-burung yang tadinya enggan untuk keluar dari sarangnya, kini mereka merasakan terbang bebas kembali, beberapa diantaranya malah ada yang terlihat seperti saling bermain air dalam sebuah kubangan. Dan akupun mencoba melihat keatas langit, kulihat keatas, dan kutemukan sebuah keindahan baru yang sangat menyejukkan pandangan mata, ya, pelangi. Bentuk pelangi yang sangat indah dan sempurna saat itu, keindahannya menghapus semua kegelisahan yang ada. Sungguh sangat indah dipandang.

Cukup lama aku memandangi sang pelangi. Dan sepertinya iapun tidak keberatan jika aku berlaku seperti itu. Aku kembali berpikir, andai saja pelangi itu bisa kuhadirkan setelah hujan yang membasahi ruang kosong dalam diriku, pasti sangat menyenangkan. Adakah kiranya sang pelangi tersebut?

Sang pelangi membiaskan cahayanya, ujung-ujungnya yang tak terlihat, menandakan ia tak pernah memiliki batas dalam memberikan kebahagiaan terhadap siapapun. Ia tak meragu, tak pernah malu, tak pernah membiarkan sekecil apapun kegelisahan yang tersisa sepeninggalan sang hujan.

Sejenak kupejamkan mataku, kubuat diriku agar lebih peka terhadap sekitar. Kubiarkan sang pelangi memperhatikan keanehan dalam diriku. Aku masuk kedalam ruang kosong diriku, mencoba memperhatikan kondisinya saat ini. Kulihat di sudut sana, diatas sebuah meja kayu kecil yang tampak rapuh tanpa alas, sebuah vas berisikan bunga tidurku semalam. Bunganya masih terlihat indah, lalu kutambahkan sedikit air kedalamnya. Tidak teralu penuh, tapi hingga kurasa cukup agar bunga itu tetap terlihat segar. Dalam ruang kosong itu aku berpikir, aku harus berbuat sesuatu agar bunga ini tak lagi terlihat sendiri. Aku tak ingin nantinya bunga itu menjadi layu, kemudian mati, dan aku harus mencari lagi penggantinya. Kupindahkan meja kayu nan rapuh itu hingga ketengah ruangan, kuperhatikan lagi, ternyata banyak yang harus kuperbuat untuk kembali mengisi ruang kosong ini. Kucoba untuk membersihkan semuanya, dan membuatnya terlihat indah lagi. Sepertinya aku membutuhkan waktu yang lama agar bisa membuat tempat ini kembali rapih lagi, walaupun sebenarnya ruangan itu hanya berisikan sebuah meja kayu nan rapuh, sebuah vas bertuliskan keinginanku, serta setangkai bunga tidurku tadi malam.

Cukup lama aku berada dalam ruang kosongku, hingga ketika ku membuka mata lagi, kulihat sang pelangi masih berada disana. Ia seperti tersenyum melihat diriku yang mematung bertingkah aneh. Sepertinya ia ingin membicarakan sesuatu kepadaku, dan aku berusaha menerka apa yang ingin ia utarakan sebenarnya.

Entahlah…tapi aku memang tidak pernah bosan ketika melihat sebuah pelangi. Meskipun dalam dirinya menyimpan berbagai misteri dan keberagaman yang berbeda-beda, ia tetaplah sesuatu yang sangat indah jika kita memahaminya. Dan itupun tidak aku pungkiri, sebab aku pernah melihat yang lebih ketika sang pelangi menunjukkan keindahannya, yaa…berkat izin-Nya, aku pernah melihat sang pelangi sedang bersama kembarannya diatas langit yang agung. Dan itu adalah sebuah moment yang sangat mahal bagiku, sebab tak pernah dalam waktuku sebelumnya, aku pernah menyaksikan keindahan sang pelangi ketika bersama kembarannya.

Jika membicarakan sang pelangi, aku pasti tidak akan pernah habis memujinya. Ya, ia memang sangat indah sekali.

Kulihat sang pelangi masih tersenyum sipu diantara tipisnya sang awan yang berada didekatnya. Ia kembali tersenyum sebelum dirinya memutuskan pergi meninggalkanku saat itu. Sebenarnya aku ingin sekali menolak kepergiannya saat itu, tapi ia seperti mengisyaratkan sesuatu padaku, bahwa aku harus percaya kepada dirinya, dan ia berjanji akan kembali hadir disetiap diriku sedang merindukan dirinya.

Ya…aku percaya pada dirimu, sang pelangi. Hingga akhirnya, ia berlalu secara perlahan, dan hilang dibalik awan tipis yang mulai terkena cahaya sang mentari kala itu.

Banyak hal yang aku pelajari dari sang pelangi, ‘Seindah apapun, secantik apapun, ia pasti akan pergi meninggalkan kehadirannya. Tapi dibalik kepergian itu, sebuah janji kecil yang sempat terucap pada akhir sekalipun harusnya dapat ditepati. Dan sang pelangipun berucap janji seperti itu, ia akan kembali membiaskan cahayanya seketika hujan meredupkan rinai airnya. Dan dalam perbedaan sekalipun, bahwasanya ia bisa menciptakan sebuah keindahan yang luar biasa adanya.’

Ya, sampai kapanpun ia adalah tetap pelangiku. Sebab aku akan sangat merindukan, jika ia menghentikan senandungnya.

Senandung pelangi…

You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe