Menuju Fajar Merekah

Juli 24, 2013

Tenanglah hatiku, karena angkasa tak mendengarkan.
Tenanglah, karena eter dibebani dengan ratapan kesedihan.
Dia tak'kan melahirkan melodi dan nyanyianmu.
Tenanglah, karena hantu-hantu malam tak menghiraukan bisikan rahasiamu, dan arak-arakan bayangan tak berhenti di hadapan mimpi-mimpi.
Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba, karena dia yang menanti pagi dengan sabar akan menyambut pagi dengan kekuatan.
Dia yang mencintai cahaya, dicintai cahaya.
Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapan-ucapanku.

***
Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba.
Tenanglah, karena langit memberontaki bau amis dan tak bisa meminum napasmu.
Dengarkanlah, hatiku, dan dengarkanlah aku bicara.
Kemarin pikiranku adalah kapal yang terombang-ambing oleh gelombang laut dan digerakkan oleh angin dari pantai ke pantai.
Kapal pikiranku kosong kecuali untuk tujuh cawan yang dilimpahi dengan warna-warna, cemerlang bagai warna-warni bianglala.
Sang waktu datang ketika aku merasa jemu mengapung diatas permukaan laut dan berkata, "Aku akan kembali ke kapal kosong pikiranku menuju pelabuhan kota tempat aku dilahirkan."

***
Aku mulai mengecat sisi-sisi kapalku dengan warna-warni, kuning matahari terbenam, hijau  musim semi baru, biru kubah langit, merah senja kala menjadi kecil. Pada layar dan kemudinya kukesankan sosok-sosok menakjubkan, menyenangkan mata, dan menyamankan penglihatan.
Tatkala kerjaku selesai, kapal pikiranku laksana pandangan luas seorang nabi, berputar dalam ketidakterbatasan laut dan langit. Kumasuki pelabuhan kotaku, dan muncul menemuiku dengan pujian dan rasa terima kasih. Mereka membawaku ke dalam kota, memukul genderang dan meniup seruling.
Ini mereka lakukan karena bagian luar kapalku yang didekorasi dengan cemerlang, tapi tak seorangpun masuk ke dalam kapal pikiranku.
Tak seorangpun menanyakan apakah yang kubawa dari seberang lautan.
Tak seorangpun tahu kenapa aku kembali dengan kapal kosongku ke pelabuhan.
Lalu kepada diriku sendiri, aku berkata, "Aku telah menyesatkan orang-orang, dan dengan tujuh cawan warna telah kudustai mata mereka."

***
Setelah setahun aku naiki kapal pikiranku dan menaruh dilaut untuk kedua kalinya.
Aku berlayar menuju pulau-pulau timur, dan mengisi kapalku dengan dupa dan kemenyan, pohon gaharu dan kayu cendana.
Aku berlayar menuju pulau-pulau barat, dan membawa bijih emas dan gading, batu merah delima dan zamrud, dan semua batu berharga.
Dari pulau-pulau utara aku kembali dengan sutra dan kain sulaman serta pakaian warna merah lembayung.
Dari pulau-pulau selatan, aku kembali dengan rantai dan pedang tajam, tombak-tombak panjang, serta beraneka jenis senjata.
Aku mengisi kapal pikiranku dengan harta benda dan barang-barang langka bumi dan kembali ke pelabuhan kotaku, sambil berkata, "Orang-orang pasti akan memujiku, memang sudah sepantasnya. meraka akan menggendongku ke dalam kota sambil menyanyi dan meniup terompet, tapi sudah sepantasnya."
Tapi ketika aku tiba di pelabuhan, tak seorangpun keluar menjumpaiku. Ketika kumasuki jalan-jalan kota, tak seorangpun memperhatikan diriku.
Aku berdiri di alun-alun sambil mengutuk pada orang-orang bahwa aku membawa buah dan kekayaan bumi. Mereka memandangku, mulutnya penuh tawa, cemoohan pada wajah mereka. Lalu mereka berpaling dariku.
Aku kembali ke pelabuhan, kesal dan bingung. Tak lama kemudian aku melihat kapalku maka kau melihat perjuangan dan harapan dari perjalananku yang menghalangi perhatianku. Aku menjerit.
Gelombang laut telah mencuci cat dari sisi-sisi kapalku, tak menyisakan apa pun kecuali tulang-belulang yang mengelantang.
Angin, badai, dan terik matahari telah menghapus lukisan-lukisan dari layar, menyisakan mereka seperti pakaian berwarna kelabu dan usang.
Kukumpulkan barang-barang langka dan kekayaan bumi ke dalam sebuah perahu yang mengambang di atas permukaan air. Aku kembali ke orang-orangku, tapi mereka menolak diriku karena matanya hanya melihat bagian luar.
Pada saat itu kutinggalkan kapal pikiranku dan pergi ke kota kematian. Aku duduk di antara kuburan-kuburan yang bercat kapur, merenungkan rahasia-rahasianya.

***
Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba.
Tenanglah, meskipun prahara yang mengamuk mencerca bisikan-bisikan batinmu, dan gua-gua lembah tak'kan menggemakan bunyi suaramu.
Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba. Karena dia yang menantikan dengan sabar hingga fajar, pagi hari akan memeluknya dengan bergairah.

***
Nun jauh disana! Fajar merekah, hatiku. Bicaralah, jika kau mampu bicara!
Itulah arak-arakan sang fajar, hatiku! Akankah hening malam melumpuhkan kedalaman hatimu yang menyanyi menyambut fajar?
Lihatlah kawanan merpati dan burung murai melayang di atas lembah. Akankan kengerian malam menghalangi engkau utuk menduduki sayap bersama mereka?
Bangkitlah, hatiku, bangkit dan berjalan bersama fajar, arena malam telah berlalu. Teror malam telah lenyap bersama mimpi gelapnya.
Bangkitlah, hatiku, dan lantangkan suaramu dalam nyanyian, karena hanya anak-anak kegelapan yang gagal menyatu kedalam himne sang fajar.

Kahlil Gibran


You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe