Melon Di Antara Gerimis dan Puasa

Juli 22, 2013

Melon siap panen. / Foto: Adiwinata
Banyak cara untuk menunggu waktu berbuka.
Selasa sore (16/7/13), gerimis masih saja mengguyur Gorontalo. Meski cuaca tidak bersahabat, tidak menghalangi para jurnalis dan awak media Gorontalo untuk ngabuburit dengan cara berbeda.
Bukan pergi berkeliling kota atau santai ria selepas pulang kerja, ngabuburit kali ini dilewatkan untuk pergi memanen melon. Para jurnalis ini diundang khusus oleh pihak pengurus Bank Indonesia (BI) perwakilan Gorontalo.
Kami pun meluncur ke Desa Ulapato A, Telaga Biru.
Di desa yang termasuk dalam daerah administratif kabupaten Gorontalo ini, ternyata menyimpan sebuah tempat hiburan baru dan cocok bagi keluarga yang ingin merasakan sensasi 'Wisata Kebun.' Desa yang berjarak 10 km dari pusat kota ini, kami tempuh dalam waktu 15 menit dengan kendaraan bermotor.
Kami disambut pria bertopi. Ia memperkenalkan diri sebagai penanggungjawab program dan pengawas lahan. Pak Ujang namanya. Kami lalu memutuskan untuk langsung melihat perkebunan yang dimaksud sesampainya di lokasi.
Tanah berlumpur serta dedaunan yang basah menyambut kami.
Di lahan seluas dua pantango (setengah hektar) itu, terhampar puluhan baris tanaman melon yang sudah berbuah ranum. Di sisi lain, tanaman semangka yang merambat ditanah, menandakan buahnya sudah siap panen 15 hari lagi. Ada juga sawi, kol, pepaya, dan kangkung.
Di ujung kebun, di sebuah rumah kecil terbuatkan kayu, kami menemui seseorang lagi disana. Seorang pria bersahaja menyambut ramah kedatangan kami yang sedari tadi terkagum-kagum dengan perkebunan itu.
Pak Boiran namanya, pria yang terlahir 52 tahun yang lalu ini ternyata adalah seorang petani yang turut berperan dalam pertumbuhan semua tanaman yang ada di kebun.
Ia menceritakan semua hal terkait perkebunan yang ia rawat setiap hari. Mulai dari awal persiapan menanam, jenis pupuk yang ia gunakan, hingga pada akhirnya buah yang dihasilkan sudah siap untuk dipanen.
“Kalau melon, setelah 70 hari dia sudah bisa dipanen. Sama dengan semangka. Ini sudah panen yang kedua kalinya,” tutur Pak Boiran, pria kelahiran Banyuwangi ini.
“Disini ada sekitar 1300 pohon, bisa menghasilkan 3 Ton lebih buah melon,” tambahnya.
Pak Boiran tidak sendiri, ia tergabung dalam satu kelompok tani yang kesehariannya bertugas untuk mengolah perkebunan hingga semua hasil panen sampai di tangan konsumen. Di sela-sela akhir pembicaraan kami bersama Pak Boiran, ia juga menambahkan, bahwasanya usaha yang ia geluti ini berhasil berkat kerjasamanya dengan pihak Bank Indonesia (BI).
Bersama dengan buah melon yang sudah melekat di tangan masing-masing, akhirnya pembicaraan singkat itu harus berakhir seiring waktu berbuka yang semakin dekat.
Acara selanjutnya dilanjutkan bincang-bincang santai dengan pihak BI sambil berbuka puasa di rumah salah satu pegawainya yang tak jauh dari kebun.
Disela-sela acara, Kepala Unit Pemberdayaan Sektor Riil dan UMKM BI Perwakilan Gorontalo Hermanto mengatakan, permintaan pasar di Gorontalo terhadap buah melon saat ini mencapai 1000 buah perhari, sedangkan yang terpenuhi baru 400 buah.
Ini menandakan, potensi untuk berbisnis buah melon masih terbuka bagi siapapun yang mau bergelut dengan dunia pertanian.
“Banyak yang mengira melon-melon yang dijual di Gorontalo itu berasal dari luar kota. Padahal Gorontalo juga bisa jadi daerah penghasil melon,” tambah Hermanto sembari memberi “cenderamata” berupa melon kepada masing-masing kami.***

Note : Tulisan ini sebelumnya pernah di publikasikan di Jurnal Kebudayaan Tanggomo, dengan judul yang sama tanggal 19 Juni 2013. Silahkan kunjungi Jurnal Kebudayaan Tanggomo untuk melihat tulisan-tulisan yang lainnya.

You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe