Hitam dan Putih

Juli 22, 2013

Di sebuah malam yang kelam, kala itu Hitam dan Putih saling bertegur sapa. Dengan kekosongan dalam dirinya sang Hitam berkeluh kepada sang Putih. Ia sedang berusaha agar bisa menempatkan dirinya dalam balutan warna-warna yang lebih cerah. Sang Putih pun terlihat untuk berusaha memberikan sebuah serum penyemangat pada sang Hitam. Memang, di kala waktu dulu, sebenarnya mereka berdua pernah terlihat bermasalah dalam menjalin hubungan. Keduanya pernah mengalami masalah keabu-abuan yang cukup pelik. Tapi, kali ini tidak, semuanya telah terselesaikan dan keduanya telah menjalani kehidupan yang baik bagi keduanya.

“Setiap orang menginginkan seperti pelangi yang walau hanya sebentar tapi indahnya selalu ada.. Semangat! Jangan melupakan kilat dan Guntur yang membantu hujan, menyemangatinya ketika lelah menyejukkan bumi.. Tau gak kemana air hujan pergi?” Berkata sang Putih kepada Hitam.

Hitampun menjawab pertanyaannya, “Hhhmmm…meresap kebumi, mengalir lewat pori-porinya, terus mengikuti alurnya, melewati berbagai rintangan, hingga akhirnya pergi ke teluk, meluas dilaut, menguap keangkasa, dan kembali turun kebumi…”

Sambil tersenyum, sang Putih melanjutkan pembicaraannya kepada sang Hitam, “Pecayakah kamu? Aku selalu ada. Kedalam perasaan inilah engkau akan bermuara, kedalam perasaan inilah engkau akan pulang dan bertemu aku lagi. Dan perasaan itu dapat engkau nikmati sekarang, di dalam hati. Tanpa perlu mati. Dengarkah kamu? Aku ada. Aku masih ada. Aku selalu ada. Rasakan aku, rasakan perasaanku yang bergerak bersama alam untuk menyapamu.”

Terdiam sang Hitam selama beberapa saat, ia berusaha meresapi semua perkataan yang diucapkan sang Putih kepadanya. Ia merasa dirinya bersalah atas apa yang pernah ia lakukan, seraya berkata, “Rinduku bersama semesta, menebar tasbih seiring rinai hujan membasahi bumi. Aku hanyalah buih ditengah kerasnya karang, lemah tanpa suara, dan diam tanpa bahasa. Hati membisu laksana batu, maafkan aku jika pernah menggores pilu dalam kalbu..”

Sang Putihpun kembali menjawab, masih dengan senyumannya yang khas ia berkata, “Kata-kata yang menggantung beku mulai cair dan mengalir kedalam darah kita masing-masing. Nadi kita mendenyutkan pesan-pesan yang tahunan sudah menanti untuk bersuara. Inilah keindahan yang kumaksud. Kejujuran tanpa suara yang tak menyisakan ruang untuk dusta. Sakit ini tak terobati dan bukan untuk diobati. Dan itu juga keindahan yang kumaksud. Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya. Hati-hati lenganku melonggar, melepaskan tubuhmu. Aku tau aku telah dimengerti, meski sekali saja pelukanku. Aliran ini memecah. Meski kamu berbalik pergi…”

Kemudian sang Hitam menjawab, “Maafkan daku meskipun detik waktu tak akan memutar balik irama dunia. Yang terharap saat ini hanyalah ketika sang mentari mampu memaafkan hujan yang seringkali menghalangi sinarnya yang hangat. Seribu kata mungkin tak tergantikan, hanyalah hati yang mampu berbicara ketika mulut tak lagi mampu bersuara. Ucapan tulus. Tak ingin melebihkan sebab hanya itulah yang terpinta…” Berkata sang Hitam diakhir pembicaraan mereka.

You Might Also Like

0 komentar

Terima

Kasih

Banyak

Subscribe